Sunday, August 27, 2017

Cerbung Horror: Kertas Hitam Eps.3 - Yang Terlupakan

Yang Terlupakan,

The Petterson.
Jacob berjalan terus menuju kota kelahirannya dengan senangnya tapi ada hal yang aneh. Jacob merasa diikuti oleh seseorang tapi ketika Jacob berbalik badan tidak ada siapaun. Jacob pun mengira itu adalah Maria ataupun Susan yang belum rela berpisah, kemudian Jacob pun berlari sampai akhirnya berhenti di stasiun kereta api.

Jacob yang tidak memiliki sepeser uang pun nekad menerobos kerumunan orang yang hendak masuk ke gerbong kereta dan tidak ada pengawas yang menyadari keberadaannya. Setelah dia sampai di kota kelahirannya, Jacob pun mencari rumah orang yang berakhiran Petterson dan bertanya kesana kemari tapi tidak ada yang mengenal orang yang bernama Petterson.

Septino Wibowo
Jacob pun putus asa mencari keberadaan orang tuanya, sampai akhirnya dia duduk di trotoar jalan dan menangis. Dia merasa tidak ada gunanya bisa kembali ke masa dimana orang tuanya masih hidup jika dia tidak bisa bertemu dengan mereka. Kemudian ada seorang pria paruh baya menghampiri Jacob dan memberikan sebungkus kue kering. Jacob pun mengusap air matanya dan menerima pemberian orang itu.

Kemudian orang itu pun bertanya, "Kenapa kamu menangis nak?". Jacob pun terdiam saat melihat mata orang itu, dia merasa mengenal orang itu. Kemudian orang itu bertanya lagi, "Siapa namamu?" Jacob pun terdiam sesaat kemudian menjawab, "Jake". Orang itu pun tersenyum, dan berkata lagi, "Namaku Jeremy Petterson, aku tinggal di dekat sini. Oh ya, aku punya toko roti disana jika kamu merasa lapar kamu bisa makan roti roti di tokoku. Gratis".

Tiba tiba Jacob meneteskan air mata lagi, dia merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan orang yang ia cari dan justru menghampirinya. Tapi ada sesuatu dibenak Jacob, dia berpikir jika dia bilang bahwa ia adalah anaknya maka akan membuat orang itu bingung jadi Jacob memutuskan untuk tetap diam dan menelusuri apa yang terjadi.

Jacob: "Apa istri anda sedang hamil?" Jacob bertanya kepada Pak Petterson

P. Petterson: "Iya benar, bagaimana kamu bisa tahu?" Pak Petterson pun kaget dengan dugaan Jacob

Jacob: "Hanya menduga hehe, pasti calon anak bapak bangga memiliki ayah yang sangat baik seperti bapak" Jacob tersenyum

P. Petterson: "Andai saja, tapi setelah istriku melahirkan kami tidak bisa merawatnya" Jawab Pak Petterson murung. Jacob pun kaget dengan jawaban Pak Petterson. 'Apa benar kalo...' batin Jacob

Jacob: "Maaf, jika boleh tahu. Kenapa anda dan istri anda tidak bisa merawat anak bapak?" Tanya Jacob hati hati

P. Petterson: "Karena....." Ketika Pak Petterson hendak memberitahu tiba tiba istrinya memanggilnya
Ny.Petterson: "Suamiku, sepertinya aku mau melahirkan. Tolong antarkan aku ke dokter Rojer sekarang!!" Teriak Istri Pak Petterson ibu Jacob. Jacob yang melihat sosok ibunya didepan matanya pun terharu dan tidak menyangka bahwa ibunya sangat cantik walaupun sedang hamil tua.

Jacob: "Bolehkah saya ikut membantu bapak mengantarkan istri bapak ke dokter?" Tiba tiba Jacob menawarkan diri, tanpa pikir panjang Pak Petterson pun meng iya kan Jacob.

Mereka pun pergi bersama ke klinik terdekat milik dokter Rojer yang terkenal di Kota itu.

The Janson.
DI tempat lain, Maria yang bersemangat sekali sedang mengintip rumah lamanya dan melihat ibunya bernyanyi sambil merajut baju kecil dan sesekali memeriksa bayi yaitu Maria kecil. Ayah Maria yang masih merintis karir membuat toko emas pun datang menghampiri bayi Maria kecil dan menggendongnya. Maria yang melihat orang tuanya yang sangat bahagia pun menangis. Maria tidak bisa membayangkan tragedi yang akan datang 5 tahun kemudian akan menghancurkan semua kebahagiaan itu. Kemudian Maria pun memiliki sebuah ide. Maria pun berjalan menuju depan rumah dan mengetuk pintu. Pak Janson pun membuka pintu dan melihat Maria yang ia tak kenali.

P. Janson: "Ada yang bisa saya bantu nak?" Tanya Pak Janson ketika melihat Maria yang berpura pura murung

Maria: "Apa anda tahu? Orang tua saya baru saja ditembak oleh para pemberontak, saya datang untuk memperingatkan semua warga yang masih tersisa untuk segera pindah dari kota ini sebelum para pemberontak itu datang lagi" Terang Maria panjang lebar

P. Janson: "Oh tuhan, semoga orang tuamu damai disisi Tuhan. Aku turut berduka atas kepergian orang tuamu nak. Terima kasih atas peringatannya, tapi aku dan istriku baru saja membeli rumah ini dan akan membuka toko besok" Pak Janson terlihat murung. Maria yang melihat Ayahnya murung pun menjadi sedih tapi Maria tetap melanjutkan rencananya.

Maria: "Usaha bisa dirintis kapanpun tapi nyawa tidak bisa kembali jika suda pergi pak. Aku dengar anda juga punya seorang bayi yang sangat cantik, apa bapak tega melihat bayi bapak sendirian jika hal buruk itu benar benar terjadi?" Tanya Maria meyakinkan, Pak Petterson diam dan berpikir sejenak.

P. Janson: "Kamu benar nak, aku dan keluargaku harus pergi dari sini dan menghindari para pemberontak sialan itu. Tapi bagaimana denganmu nak? Kemana kamu akan pergi?" Tanya Pak Janson, Maria pun tersentak dengan pertanyaan Pak Janson tapi Maria mencoba terus tetap tenang.

Maria: "Bapak tenang saja, saya tahu harus pergi kemana, sekarang yang terpenting saya harus memperingatkan para warga untuk meninggalkan kota ini. Selamat tinggal, semoga kita bisa bertemu lagi" Maria pun bergi dan melambaikan tangan.

Pak Janson pun segera masuk kedalam rumah dan memberitahu istrinya untuk mengemasi barang barang dan segera pergi dari kota itu.

The Peterdrew.
Sementara Susan yang gugup karena akan menemui keluarganya kembali. Susan pun melihat Ayahnya sedang mencatat sesuatu didalam kamarnya. Susan mengitip dari sela sela kayu dan mendengar ayah nya menggerutu tentang rumus rumus yang dicatat ayahnya itu. Kemudian Ayah Susan pun mendengar tangisan bayi yaitu susan kecil. Ayah susan pun menghampiri bayinya yang menangis dan memberikan sebotol susu hangat. Susan tidak melihat ibunya didalam rumah walaupun susan sudah mengintip mengelilingi seluruh rumah. Kemudian Susan paham bahwa sifat ibu nya seperti apa.

Susan tidak bisa membayangkan jika Ayahnya seorang diri membesarkannya sedangkan Ibunya sedang berhura hura menghabiskan hasil kerja ayahnya dengan pria lain. Kemudian Susan punya ide, Susan pun mengetuk pintu rumah. Dari dalam terdengar suara Ayahnya "Iya sebentar Jessica (Ibu Susan)" kemudian membuka pintu.

P. Peterdrew: "Oh aku kira istriku haha. Siapa kau? Apa yang kau inginkan gadis muda?" Tanya Pak Peterdrew sambil menggendong dan menimang susan kecil yang sedang mengedot susu hangatnya.

Susan: "Maaf apa anda ilmuan yang terkenal itu?" Tanya susan bersemangat, Pak Peterdrew pun tersipu malu

P.Peterdrew: "Hahha apa aku sangat terkenal? haha, ayo masuk masuk. akan ku buatkan coklat hangat untukmu" Pak Peterdrew mempersilahkan Susan untuk masuk dan susan pun dengan senangnya masuk ke rumahnya lagi. Susan pun duduk di kursi rotan dan melihat foto foto keluarga yang tidak harmonis itu. Kemudian Pak Peterdrew datang membawa dua cangkir coklat hangat dan masih dengan menggendong susan kecil.

P. Peterdrew: "Jadi, apa tujuanmu datang menemuiku nak?" Tanya Pak Peterdrew saat meletakkan dua cangkir coklat hangat diatas meja. Susan pun segera meminum coklat hangat itu.

Susan: "Wow, coklat hangat ini sangat luar biasa enaknya. Apa resepnya pak?" Susan mengalihkan pertanyaan

P. Peterdrew: "Benarkah? hahaha aku cuma membuat beberapa percobaan dengan menambahkan beberapa rempah didalamnya"

Susan: "Hemm.. seharusnya bapak bisa membuka kedai, pasti akan sangat terkenal dengan percobaan percobaan bapak yang luar biasa ini"

P. Peterdrew: "Hahah bisa saja kau ini. Aku ini ilmuan bukan seorang koki. Aku menguras waktuku untuk membuat percobaan merancang bom peledak untuk kuserahkan kepada petinggi negara ini, supaya musuh kita akan kalah dan kita bisa merdeka" Jawab Pak Peterdrew menjawab dengan panjang lebar

Susan: "Oh begitu, bagus sekali niat bapak. Tapi... setahu saya bom itu berefek juga kepada penggunanya. Apabila percobaan bapak itu gagal bagaimana? Apa bapak tega meninggalkan anak bapak itu? Dia masih butuh banyak kasih sayang dari seorang bapak. Lagipula memadukan pengetahuan dan resep makanan akan memadukan hal yang luar biasa bukan? Dan lagi saya lihat disini belum ada yang membuka kedai" Susan mencoba merubah pemikiran Ayahnya, Pak Peterdrew pun membuka matanya lebar lebar dengan ucapan Susan. Dia membayangkan jika anaknya akan terlantar jika dia meninggal karena istrinya yang tidak bisa diandalkan. Kemudian Pak Peterdrew pun diam dan berpikir keras dan melihat barang barangnya yang selama ini dibuar untuk percobaan percobaan.

Pak Peterdrew: "Hemm, sepertinya ucapanmu benar juga nak, aku terlalu memikirkan diri sendiri dan negaraku sampai aku lupa memikirkan anakku sendiri. Aku memang anak seorang koki, ayahku senang sekali memasak dan aku sering melihatnya memasak dan rasanya yang sangat luar biasa enaknya. Sepertinya ucapanmu merubah pola pikirku untuk melanjutkan percobaanku. hahaha kau ini adalah gadis jenius. Orang tuamu pasti bangga memiliki anak sepertimu" Susan pun tersenyum bangga karena orang tuanya yang bilang seperti itu sendiri kepadanya.

Tiba tiba, Susan, Maria, dan Jacob mimisan di waktu yang sama dan mereka bertiga pun pingsan.......

Bersambung.....