Thursday, September 7, 2017

Cerbung Horror: Kertas Hitam Eps.5 - Jacob's POV

Jacob's POV

Aku adalah seorang anak nakal panti asuhan yang merindukan kasih sayang orang tua. Aku sangat membenci tempat ini, tempat dimana kebebasanku dirampas, tempat dimana semua anak kecil merasa menderita karena pengasuh kami sendiri. Aku memang tidak suka banyak peraturan apalagi peraturan yang tidak berguna. Aku membenci semua pengasuh dan pengurus di Panti ini. Mereka seperti hewan bagiku. Mereka memakan jatah makan kami, uang donatur yang seharusnya diberikan kepada kami mereka pakai seenaknya.

Septino Wibowo
Aku tidak berkata omong kosong karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, suatu malam ada seorang wanita kaya datang dan memberikan setumpuk uang dan menuruh pengasuh untuk membaginya kepada semua anak panti. Wanita kaya itu bilang dia ingin melihat anak panti memakai baju baru dan juga makanan bergizi. Tapi setelah wanita tua itu pergi, pengasuh itu menyimpan uangnya untuk dirinya sendiri, dia membagikan pakaian dari donatur lain yang memberikannya seminggu lalu dan memberi kami sepotong keju untuk tiga orang anak dan sepotong biskuit untuk satu orang.

Ketika aku bertanya kepada pengasuh itu, aku justru ditampar dan dihukum tanpa sebab, disuruh mengepel lantai selama sebulan, mencuci pakaian semua anak, dan memasak gandum selama seminggu. Sungguh mereka bukanlah manusia, bahkan lebih kejam daripada musuh inggris.

Untungnya aku memiliki sahabat bernama Maria dan Susan. Ya, aku tahu apa yang kalian pikirkan. Aku satu satunya laki laki di gengku. Walaupun demikian, Maria tidak kalah garangnya sepertiku. Maria adalah tipekal pemberontak kelas A jika dia adalah penjahat. Sedangkan Susan adalah penyusun rencana yang handal. Walaupun dia pendiam, tapi otak jenuisnya sangat berguna bagi kami.

Suatu hari, aku sedang bosan bermain dengan teman temanku karena kedua sahabatku sedang dikamarnya entah apa yang mereka lakukan. Aku merasa sangat kesepian dan merindukan kehadiran orang tua. Kenapa tidak ada yang ingin mengadopsiku. Aku begitu kesal, aku memukul mukul tembok papan dengan tanganku sekuat tenaga.

Sampai akhirnya aku melihat seorang pengasuh ke loteng membawa satu kotak benda benda yang begitu mencurigakan. Aku pun mengendap endap mengikutinya dan bersembunyi dibalik pintu. Ketika dia sudah selesai dengan urusannya, pengasuh itu lalu pergi tanpa menghiraukan keberadaanku. Mungkin dia terburu buru. Aku langsung berlari ke loteng dan menutup pintu.

Aku mencari keberadaan kotak aneh itu. Dan akhirnya ketemu. Aku membongkar isi kotak itu. Ada salip kayu yang tertumpuk rapi diatas kotak. Aku pun mengambilnya dan menaruhnya disampingku. Aku menemukan buku hitam yang aneh karena didalam buku itu setiap lembarannya berwarna hitam. Di sampulnya menunjukkan simbol yang aneh. Aku terkejut ketika aku membuka lembaran kertas buku itu, ada beberapa tulisan H, E, P, M yang terpisah di setiap lembar. Dan huruf huruf itu berwarna merah darah. Ketika aku membaliknya lagi, tulisan itu hilang. Aku berpikir mungkin buku ini ajaib dan bisa menjadi percobaan selanjutnya.

Aku pun berlari menuju Kamar Wanita tempat Susan dan Maria dengan membawa buku itu. Aku menunjukkan kepada mereka, dan mereka pun sama bingungnya denganku. Aku mengajak mereka untuk membuat percobaan lagi malam ini dan Maria setuju saja sedangkan Susan masih ragu dan banyak berpikir, itu sudah kebiasaannya. Tapi selang beberapa menit karena dipaksa dan dikatai oleh Maria, akhirnya Susan mau ikut juga.

Siang berganti malam, kami pun sudah menyusun rencana bahwa aku akan pergi begitu semua pengasuh sudah selesai memeriksa anak anak. Maria dan Susan datang memberi sinyal untuk segera pergi, aku pun bergegas dan kami menuju loteng dengan satu lilin. Setelah sampai di loteng, kami mencari tempat yang aman untuk percobaan kami, ada sebuah lemari besar yang aku tidak sadari sebelumnya ada disitu. Kami pun memutuskan untuk pergi bersembunyi dibalik lemari besar itu dan membuka kedua pintunya agar tidak terlihat. Kami pun mulai dengan percobaan kami. Dan akulah percobaan pertamanya, huufft.

Aku mengiris sedikit jariku dengan silet kecil dan menuliskan sesuatu di kertas hitam itu dengan darahku. Setelah itu semuanya terasa gelap. Ketika kami bangun, kami berada didekat panti. Luka di jariku mengjilang. Dan anehnya pengasuh tidak mengenali kami hingga kami sadar bahwa kami kembali ke masa lalu. Itu akhirnya apa yang aku tulis menjadi kenyataan. Aku pun menyusun rencana lagi kembali, aku berkeinginan menemui keluargaku karena aku yakin mereka masih hidup sekarang.

Begitu juga dengan keluarga Maria dan Susan. Jadi, kami membuat keputusan untuk berpisah sementara untuk urusan kami masing masing. Kami ingin membuat hal yang sudah terjadi tidak terjadi dan menjadi lebih baik. Aku ingin mencegah kematian orang tuaku, Maria ingin mencegah kematian orang tuanya begitu juga dengan Susan. Sedangkan buku hitam yang sangat berharga itu aku bawa.

Aku pun berlari sekuat tenaga karena sangat senang . Aku akan bertemu kedua orang tuaku. Aku pun pergi dimana kota tempat orang tuaku tinggal dulu sesuai informasi yang aku dapat di kantor pengurus. Tentu dengan diam diam aku melihat data itu hehe. Seharian aku bertanya kepada setiap orang di kota ini tapi tidak satupun dari mereka yang mengenal ayah ataupun ibuku. Kata mereka nama itu asing bagi mereka. Tapi aku masih yakin bahwa mereka masih hidup.

Aku pun tidak kuasa menahan tangisku karena lelah dan juga kecewa. Aku duduk di trotoar dan sembari terus mengusap air mataku yang terus menetes. Tiba tiba ada seorang pria paruh baya memberiku sepotong roti, aku pun menerima dan memakannya. Aku terkejut ketika kami berbincang bincang dan dia bilang dia adalah Tuan Petterson. Dia ayahku. Ayahku masih hidup. Aku pun merasa nyawaku terkumpul kembali dan semangat hidupku bangkit lagi. Aku ingin mengatakan bahwa aku anaknya tapi aku tertahan karena satu pemikiran.

Belum waktunya. Aku pasti akan membuat dia sangat bingung jika aku mengatakan terus terang padanya. Kemudian aku mendengar seorang wanita berteriak dari kejauhan dengan memegang perutnya. Ia terlihat kesakitan. Ia memanggil ayahku dengan sebutan suami. Ia Ibuku. Aku pun tersenyum lebar melihat betapa cantiknya ibuku dikala masih muda. Dan apa itu, dia mengandung. Apakah itu aku, aku yang masih dalam perut ibuku. Aku melihat Ayahnya begitu khawatir dengan Ibuku. Aku pun bahagia bisa bertemu mereka berdua walaupun aku tidak tahu apakah ini nyata atau bukan.

Kemudian aku memiliki sebuah ide, aku ingin melihat ibuku melahirkan. Aku pun menawarkan bantuan pada ayahku untuk mengantarkan ibuku ke bidan terdekat. Aku dan ayahku mengantar ibuku ke bidan terdekat dengan meminjam mobil tetangga. Kemudian ketika sudah sampai aku pun melihat kekhawatiran ayahku yang luar biasa. Itu artinya dia sangat menyayangi Ibu dan juga aku. Aku pun ikut kawatir entah kenapa ada sesuatu yang berbisik dibelakangku. "Nyawamu atau nyawa mereka". Aku pun tidak sadarkan diri ketika mendengar tangisan bayi.

Bersambung.....