Monday, September 25, 2017

Cerita Lantai 2 Gedung Lama Part 2

Halo guys, buat kalian yang nugguin part 2 dari Cerita Lantai 2 Gedung Lama malam ini saya akan update supaya tidak terlalu lama seperti cerita Gunung Argo dulu hehe. Jika part pertama saya membahas tentang waktu pelantikan bantara, kali ini saya akan membahas hal berbeda. Bahasan kali ini adalah terfokus kepada penghuni sebenarnya lantai 2. Sosok apa sajakah yang ada di lantai 2? Dan seperti apa ceritanya, mari kita bahas semuanya disini.

Septino Wibowo
Cerita dimulai,
Akhir tahun 2012.
Hari hari saya berjalan normal walaupun saya masih belum terlalu nyaman di sekolah saya. Saya sering mengalami pusing, emosi yang naik turun, dan suara suara dari berbagau tempat membuat saya seperti didalam pasar yang banyak emak emak menawar harga sana sini. Semuanya terdengar ramai walaupun keadaan sedang hening seperti pelajaran Matematika pagi hari. Ruangan saya yang tak jauh dari lantai dua gedung lama membuat saya mendengar beberapa bisikan yang sedikit mengganggu.

Saya duduk dibangku paling belakang bersebelahan dengan teman saya yang paling tinggi dikelas. Namanya Bhaskara, berkulit sawo matang dan berbadan tegap. Dia anak yang baik dan pintar dalam matematika dan beberapa pelajaran lainnya. Saya yang tidak bisa sepenuhnya fokus dengan keadaan kadang tidak meresponnya dengan cepat dan pasti saya terlihat sangat aneh waktu itu. Ketika guru menerangkan pelajaran bilangan real didepan sebuah bayangan aneh merangkak dipojok tembok sebelah teman saya yang duduk sendirian bernama Emi. Sosok itu tidak berbentuk manusia, sosok yang merayap menuju langit langit dan menghilang. Ada beberapa anak yang berbicara sendiri dan saya yang tidak bisa fokus pun sedikit kualahan dengan suasana ini Ingin saya rasanya merasakan seperti mereka yang normal tanpa gangguan seperti saya. Bisa fokus kepada pelajaran dan berkonsentrasi menyerap apa yang guru terangkan.

Saya sebagai satu satunya anak yang belum memakai baju seragam SMK karena belum jadi sedikit malu tapi untungnya teman teman saya adalah orang orang yang baik. Saya mencoba berinteraksi dan berteman dengan mereka. Saya akhirnya bisa berbaur dan mencoba mengabaikan suara suara aneh dan bentuk bentuk aneh yang lalu lalang menerpa saya. Akhirnya beberapa hari saya berbaur dan kenal mereka satu per satu dengan sifat dan kepribadiannya yang saya amati tanpa mereka tahu.

Menjadi 'berbeda' itu tidak semenyenangkan seperti yang mereka bayangkan. Hari praktik TKJ pertama membuat saya kaget karena ruangan yang digunakan sesak dengan MG. Saya mencoba tenang dan terbiasa, mencoba bersikap biasa dan mengeluarkan kepribadian humoris saya dan menutup kepribadian saya yang serius ketika pertama kali datang ke rembang. Ketika saya mencoba fokus kepada pelajaran tiba tiba sosok MG anak kecil menghampiri didepan saya dan melihat saya didepan muka saya. Saya mencoba mengabaikannya dan berpindah tempat tapi sayangnya 'dia' mengetahui saya melihatnya. Dia pun memanggil teman temannya dan berbisik bisk sementara saya hanya membuka percakapan dengan teman teman saya.

Saya mencoba bersikap senormal mungkin dan membiarkan para MG itu berdiskusi untuk mengerjai saya siapa tau. Praktik ke dua yaitu hari kamis, perasaan saya tidak nyaman. Entah kenapa saya berat untuk berangkat sekolah tapi saya harus sekolah karena tidak ingin membuat perjuangan ibu dan kakak saya sia sia. Saya pun melangkah ke sekolah dan mengikuti praktik seperti biasa. Tidak ada gangguan berarti dari 'mereka'. Saya praktik dan mengikuti semuanya dengan baik sampai sore tiba. Praktik yang melelahkan, pulang sekolah saya pun paling akhir dan ada seorang guru meminta tolong saya menaruh tumpukan bukunya di ruang guru.

Saya dengan senang hati membantu menaruh tumpukkan buku guru itu ke ruang guru yang letaknya di lantai 3. Saat saya melangkah ketangga lantai 3 saa ingat waktu dulu ada sosok didekat jendela menatap saya tidak suka ketika saya hendak mengambil bet bantara. Saya mencoba berpikir positif semoga masih ada guru di ruang guru karena sore hari sudah membuat saya tidak nyaman karena waktu itu matahari sudah hampir menghilang. Saya pun mempercepat langkah saya dan ke ruang guru dengan mengetuk pintu tapi tidak ada satupun guru di ruangan itu. Saya pun mencari meja guru tadi sesuai intruksinya yaitu banyak tumpukkan buku serupa maka saya menaruhnya disitu.

Ketika saya keluar ruangan saya merasakan ada yang berbisik tapi ketika saya menoleh kebelakang tidak ada sosok apapun. Saya pun menuju lantai 2 yang dekat ruang guru. Selangkah dua langkah saya mendengar langkah kaki. Saya berhenti sejenak dan melihat keatas tidak ada siapapun. Saya pun melangkah lagi kebawah anak tangga dan langkah kaki itu semakin jelas dan dekat. Saya pun berbicara dalam hati tolong jangan ganggu saya. Karena waktu itu saya belum bisa memanggil para penjaga saya jadi saya tidak bisa membendung diri saya dan membuat mereka menghindari saya. Saya pun mempercepat langkah saya sampai akhirnya seperti ada yang mendorong saya dari belakang dan saya pun terjatuh dibeberapa anak tangga. Saya pun bangun dan melihat sekitar dengan gemetaran. Saya tidak pernah mendapatkan serangan fisik seperti ini, dan ini tandanya ada MG yang tidak suka keberadaan saya di sekolah ini.

Saya pun berjalan menuruni anak tangga dan deg.... Sosok bermuka amit amit mengintip dari sisi pintu ruangan dekat tangga. Dengan lidahnya yang panjang dia menatap saya dengan wajahnya yang mengerikan. Matanya seperti melotot dan hampir keluar dari tempatnya membuat saya mual dan segera pergi tapi entah kenapa langkah saya menjadi berat. Saya mencoba berteriak dan pita suara saya seperti tiba tiba hilang dan hanya terdengar suara serak kecil dari rongga mulut saya. Saya pun membaca surat kuluhu dalam hati sebanyak banyaknya dan perlahan tubuh saya bisa bergerak.

Keringat dingin mengucur dari kening sampai seluruh tubuh membuat saya semakin gemetar dan berjalan perlahan meninggalkan sosok itu yang masih mengintip dari sisi pintu ruangan. Di tangga menuju lantai bawah saya pun mempercepat langkah dan berlari keluar. Itu benar benar pengalaman baru saya mendapatkan serangan fisik dari MG yang saya yakini sangat kuat. Saya tidak tahu itu penghuni sebenarnya lantai itu atau penghuni baru karena beberapa hari lalu saya tidak pernah melihatnya. Saya pun berjalan lemas dari pintu gerbang sekolah dan ditegur beberapa orang yang berada di musholla sekolah. Saya hanya tersenyum dan terus berjalan pulang.

Malam harinya saya tidur lebih cepat dari yang lain di kasur paling pojok mepet dengan tembok kamar. Saya mencoba berkonsentrasi dan relax. Saya pun hendak melakukan Astral Projection untuk melihat siapa sebenarnya penghuni di lantai 2 yang menyerang saya karena saya akan tidak merasa aman selama saya bersekolah disana jika tidak tau siapa sosok itu. Saya bertemu seseorang yang juga melakukan astral projection seperti saya. Sepertinya bukan orang rembang, saya hanya menyapanya dan pergi menembus ruang langsung ke sekolah saya. Banyak ruangan yang sama dan tipuan MG tapi saya dapat merasakan dimana letak sekolah saya. Saya pun akhirnya sampai didepan gerbang yang ternyata diberi penjaga ghoib. Selama saya bersekolah saya tidak pernah melihat 'mereka'. Mungkin mereka tidak mau menampakkan diri. Saya pun meminta izin untuk masuk dan mereka membuka gerbangnya.

Saya mencoba menelusuri bagungan yang hanya terlihat satu gedung yang berbentuk agak aneh secara arsitektur tentu saja itu dunia astral yang dibuat MG hahaha. Saya pun memberanikan diri untuk melihat sekitar dan hanya banyak sosok aneh yang saya temui waktu pelantikkan bantara yang ada. Sedangkan sosok yang mengganggu sore tadi tidak muncul dan saya tidak menemukan sosok yang mendorong saya. Saya menelusuri ruangan dan hanya menemukan mbak kunti yang menangis disudut ruangan, mas pocong yang berdiri di ruangan nampak tidak senang dengan wujud orang tua memakai baju serba hijau.

Saat saya hendak kembali ke gerbang saya mendengar sesuatu seperti berteriak, berteriak nama saya dari kejauhan, semakin mendekat dan saya melihat sekitar tidak ada siapapun sampai saya tahu sosok itu diatas saya. Mulutnya yang terbuka lebar dengan wujud yang aduhai mengerikan sukses mengagetkan saya dan membuat saya mundur beberapa langkah. Dia mungkin bisa menyerang saya di dunia nyata tapi di dunia astral saya yang terkuat. Saya pun bertanya apakah dia yang mendorong saya sore tadi. Dia pun tertawa seperti tawa kunti tapi lebih nyaring dan kalo orang denger pasti merinding seluruh tubuhnya. Saya memintanya untuk tidak menganggunya dan bertanya lagi siapa sosok berlidah panjang yang mengintip dibalik pintu. Sosok bermulut panjang itu menunjuk ke arah ruangan merah.

Saya pun kaget, karena ruangan merah merupakan ruangan MG level tinggi. Saya pun hanya menyuruh MG yang mendorong saya memberitahu sosok berlidah panjang untuk tidak mengganggu saya tapi dengan cepat sosok yang mendorong tadi geleng geleng kepala dan menghilang. Saya tahu maksudnya itu. MG itu menjadi budak MG yang berlidah panjang tadi dan sudah jelas sekarang yang menuruh MG tadi adalah yang berlidah panjang. Saya pun menuju ke penjaga gerbang dan bertanya apakah sosok berlidah panjang tinggal di gedung ini dan mereka menggeleng kepala. Dan sudah jelas berarti sosok berlidah panjang itu adalah MG kiriman dari suatu tempat untuk mengganggu siswa jika petang tiba.

Dengan cepat saya membuka ruang merah itu dan melihatnya sedang memakan kotoran. Hii menjijikkan jika saya jelaskan tapi sosok itu tanpam tidak sedang dengan kehadiran saya. Saya pun menuyuruhnya pergi dari gedung, sosok itu hanya diam dan menunduk. Berarti dia juga budak seseorang karena dia menurut dengan manusia. Kemudian saya menawarkan tempat untuknya yaitu tempat yang jauh dari tempat gedung. Saya pun membawanya menembus waktu masa lalu tempat di lokasi yang tidak bisa saya beritahukan, kalo saya beritahu pasti tempat ini akan viral haha karena tempat ini memang tempat dimana banyak MG buangan yang tak bertuan.

Setelah itu pun memberi salam kepada sosok itu dan kembali ke gerbang untuk keluar gedung dan kembali ke raga saya dengan secepat kilat. Apakah masalah di sekolah sudah beres? Tentu saja belum. Banyak orang dengan niat buruk membuang MG mengerikan di gedung tua sekolah saya. Entah apa tujuannya yang jelas tidak baik karena telah membuang MG yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Cerita part tiga final karena pembahasan saya di cerita setelah Lantai 2 Gedung Lama sudah tidak terlalu mengganggu tapi sosok yang bermunculan di tempat lain yang lebih sulit untuk diatasi akan menambah keseruan ceritanya. Jadi cerita Lantai 2 Gedung Lama hanya sampai part 3.

Untuk part 3 saya akan usahakan update secepatnya. Semoga cerita diatas bisa menghibur malam kalian dan semua yang membaca cerita ini. Tanpa kalian ketahui MG atau mahkluk astral juga punya perasaan karena kebanyakan MG adalah jin bukan arwah yang nyangkut. Jika memang arwah, 'mereka' tidak akan sebahaya MG yang dapat meningkatkan ilmu mereka. Hargai keberadaan mereka, dan jika tidak nyaman suruh mereka pergi dengan cata yang baik dan metode yang benar. Jika kalian memilih menangkap mereka dan memasukkan ke botol menurut saya itu salah, tapi jika kalian memindahkannya ke tempat yang layak untuk MG tinggali itu lebih baik karena 'mereka' juga berhak hidup di alam 'mereka'. Ok, akhir kata, 'mereka' itu ada disekitar kita. Septino Wibowo