Saturday, September 23, 2017

Pengalaman Horror Pertama Kali Bertemu Pocong

Halo guys, kali saya akan berbagi kisah tentang pertemuan saya dengan si lepet jagung alias pocong. Tahu kan pocong kayak apa? Ya iyalah, banyak film horror soal pocong tapi tahukah kalian bahwa pocong itu wujudnya tidak hanya putih terbungkus kain kafan tapi juga wujud lainnya?

Pocong merupakan jin tingkat yang lebih tinggi setara dengan Genderuwo karena dapat merubah wujud dan berbuat sesuatu pada korbannya. Contohnya adalah sirep, sirep merupakan sesuatu yang dikirimkan secara ghoib supaya korbannya tertidur pulas tanpa terganggu walaupun seberisik apapun kondisinya. Pocong juga bisa menyebarkan halusinasi tinggi dan membuat korbannya merasa pusing dan linglung.

Septino Wibowo
Sebelum bercerita saya ingin memberitahu bahwa pocong memang bisa berwujud berbagai bentuk. Bisa sesosok orang, benda aneh, hewan, dan bentuknya yang terseram yaitu dibungkus dengan kain kafan dan berkeliaran. Jika kalian pernah melihat wujud seram pocong di film, dan jika kalian pikir itu adalah wujudnya yang paling seram kalian pasti akan pingsan jika melihat yang asli. Karena wujud didunia nyata pocong jauhhh lebih seram dibandingkan di film film. Aura yang gelap sangat terasa, lebih lagi bau busuk dan juga jika kalian beruntung akan diperlihatkan wajahnya yang aduhai suereemm hehe.

Cerita dimulai.
Kembali ke masa 2005,
Di umur saya yang masih kecil, saya dituntut untuk selalu berangkat mengaji di TPQ pada sore hari senin sampai kamis, sabtu dan minggu karena jum'at libur. Septino kecil adalah seorang anak yang suka sekali menelusuri tempat tempat yang aneh dan sayangnya hal itu bukan hal baik. Suatu hari, saya berangkat ke TPQ menggunakan sepeda saya dan sampai duluan disana dan belum ada sama sekali orang jadi saya pun bermain dengan kapur dan menggambar di lantai (Kapur di SD, waktu dulu masih menggunakan blackboard). Kemudian tak lama jendela TPQ tiba tiba terbuka sendiri, saya kira sudah ada guru yang masuk tapi setelah saya melihat dalam ruangan tidak ada siapapun tapi sosok orang tua dengan memakai baju kumuh dengan kepalanya yang sedikit miring kekanan juga tak terlalu jelas wujudnya sedikit tertawa. Saya pun merinding dan berlari ke belakang TPQ tempat wudlu dan meninggalkan tas saya didalam ruangan. Suasana mendung mendukung dan membuat semakin horror. Saya pun duduk ditempat wudlu sampai akhirnya tiba tiba saja pusing dan ketiduran.

Setelah saya bangun ternyata sudah hampir maghrib dan setelah saya cek kembali kedalam tidak ada siapapun. Saya pun menggaruk garuk kepala bingung dan melihat papan tulis ternyata hari ini libur, tapi kenapa saya tidak tahu? mungkin waktu itu hari sebelumnya saya tidak masuk jadi tidak tahu kalo hari itu sedang libur. Saya pun bergegas mengambil tas saya sebelum sosok itu muncul lagi dan segera memakai sandal jepit dan berlari ke sepeda saya yang terparkir di halaman rumah salah satu guru disana. Anehnya tidak ada siapapun dan semua pintu rumah tertutup rapat. Mungkin semuanya sedang bepergian. Setelah saya menuntun sepeda saya sosok yang luar biasa itu muncul. Di pojokan pagar kayu dan bambu sosok putih dengan wajah yang aduhai itu menampakkan diri. Saya mencoba berteriak teriak tapi suara saya seperti tertahan dan sekujur tubuh terasa kaku dan melayang.

Rupanya yang mengerikan membuat saya ingin menutup mata tapi saya juga tidak bisa menutup mata saya, seolah olah saya terkena genjutsu Itachi haha. Saya terus menatapnya dengan mulut menganga. Lalu ada seseorang menepuk pundak saya, orang tua membawa motor jadul dan membawa arit itu akhirnya membuat saya sadar. Saya pun langsung menangis sangat kencang. Orang tua itu terlihat bingung dan mencoba menenangkan saya dan menyuruh saya duduk di teras rumah guru saya tapi saya tidak mau karena masih takut karena sosok pocong itu masih berdiri dan tidak merubah posisinya sedikitpun. Orang tua itu kemudian bertanya setelah memberikan air minumnya untuk saya minum. Orang tua itu bertanya kenapa saya berdiri disamping pohon mangga dan diam saja kemudian menangis. Saya sesenggukkan dan masih terus menangis, walaupun begitu saya juga menjawab pertanyaan orang tua itu kalo saya melihat 'ujung ujung' (Bahasa jawanya Pocong). Orang tua itu kemudian melihat sekitar dan tidak melihat apapaun. Orang tua itu lalu bertanya lagi dimana pocongnya, saya menunjuk kearah pocong itu yang masih menatap saya.

Orang tua itu celingak celinguk mencari keberadaan pocong itu tapi sepertinya dia tidak melihatnya. Kemudian dia menawarkan tumpangan untuk mengantar saya pulang, saya pun mengangguk. Tapi ketika dia menggandeng tangan saya dan berbalik arah dia terjekut, dia membaca istigfar beberapa kali sambil gemetaran karena saya merasakan tangannya yang langsung dingin dan sedikit gemetar. Adzan pun berkumandang. Pocong itu pun hilang entah kemana. Orang tua itu kemudian langsung menyuruh saya naik ke belakang motornya tapi saya menggeleng kepala dan menaiki sepeda saya. Saya bilang saya pulang sendiri saja tapi orang tua itu mengantar saya sampai ke pertigaan jalan lurus menuju rumah saya. Tak lupa saya berterima kasih kepada orang tua itu, orang tua itu hanya mengangguk dan tersenyum kemudian mengendarai motor tuanya ke arah sebaliknya. Saya pun pulang dengan keringat di sekujur tubuh dan mengusap air mata saya juga ingus saya yang meler hehe.

Setelah hari itu, membuat saya malas pergi ke TPQ karena masih takut hal itu akan terulang lagi. Beberapa kali ibu saya marah karena saya tidak mau pergi ke TPQ dengan berbagai alasan yang saya buat buat seperti pusing, malas, anak anaknya nakal dan lain sebagainya. Walaupun kejadian itu sebentar tapi hal itu sukses menjadi karat di otak saya. Menjamur dan tidak terlupakan sampai sekarang. Dan dari dulu memang sosok yang saya benci adalah Pocong karena begitu berbahaya jika diserang sendirian. Saya mengingat detail rupanya yang mengerikan itu, bau busuknya dan juga suasana yang bisa membuat saya pusing jika mengingatnya. Memang setelah itu saya bertemu dengan pocong beberapa kali sampai sekarang tapi pengalaman yang paling menakutkan adalah waktu di TPQ itu. Saya tidak tau bagaimana jadinya jika tidak ada orang tua itu yang kebetulan lewat dan menegur saya. Benar benar pengalaman yang luar biasa untuk saya pribadi.

Baiklah, sekian dulu ceritanya tentang pertemuan saya dengan si lepet jagung. Mungkin kalian yang memiliki pengalaman sama seperti saya bisa sharing ke saya jika masih merasa ketakutan atau merasa sosok itu masih berada disekitar kalian. Semoga cerita diatas dapat menghibur kalian semuanya dan bisa menjadi pelajaran buat kalian entah dari segi apanya hehe. Akhir kata, 'mereka' ada disekitar kita dan kadang menghantui kita. Septino Wibowo