Friday, September 29, 2017

Pengalaman Mistis di Alas Roban Part 2

Halo guys, apa kabar kalian? Semoga dalam keadaan baik dan selalu dalam lindunganNya. Ok, sesuai janji saya kemaren saya akan menceritakan cerita kakak saya yang juga pernah melewati Alas Roban dulu banget di tahun 2002. Kakak saya yang umurnya jauh lebih tua 8 tahun juga pernah mempunyai pengalaman buruk. Bukan hanya kakak saya, saya yakin banyak anak yang 'berbeda' waktu kecil memiliki masa masa sulit dan memuakkan.

Banyak hal yang akan dilewati, bukan hal mudah untuk mengendalikan hal ini karena butuh energi dan mental baja untuk terus bertahan. Tapi jika sudah terbiasa, hal ini menjadi sedikit ringan karena beban sedikit berkurang karena rasa takut yang megecil dan juga pandangan dan pengalaman yang didapat meurpakan pelajaran yang sangat berharga.

Septino Wibowo
Cerita dimulai,

2002.

Kakak saya merupakan seorang ketua kelas waktu dia SMA dulu (jaman dulu masih SMEA). Sebagai ketua kelas dia dibebani tugas untuk menjadi panutan untuk seluruh anggota kelas. Bukan hanya ketua kelas, kakak juga seorang pemain bulu tangkis tingkat kecamatan yang cukup mahir dan juga ahli karate walaupun tidak pernah ikut kejuaraan nasional. Dengan segala talenta dan kemampuannya yang disegani banyak orang di sekolah dan menjadi teman yang akrab dengan siapa saja. Kakak merupakan seorang yang memiliki kepribadian ganda seperti saya. Dia kadang menjadi sangat pendiam dan tak terduga. Semua itu dikarenakan banyak hal yang ia tidak bisa ceritakan kepada siapapun.

Walaupun kakak bukan kakak sekandungan dengan saya, tapi kami terlihat begitu mirip dari bentuk fisik maupun watak dan kepribadian. Yang membedakan adalah masa kakak jauh lebih pahit dan sulit ketimbang saya yang selalu merepotkan ibu dan saudara saya. Kakak seorang pekerja keras dan dari kecil sudah membantu pekerjaan rumah sampai membantu berjualan gorengan dll. Ada perbedaan diantara saya dan kakak adalah, kakak mampu mengendalikan 'kemampuannya' dengan baik, mempelajari 'kemampuannya' serta mengembangkannya sementara saya tidak menerima 'kemampuan' ini dan sering menganggapnya kutukan waktu masih labil.

Kakak dapat menyadari bahwa kemampuannya melihat yang tak terlihat lebih awal di umurnya yang ke 7 tahun. Walaupun begitu kakak tidak serta merta menerima dan langsung mempelajarinya. Kakak juga melewati masa kebingungan dan lelah tapi dengan waktu yang cepat dapat melewati itu tanpa memberitahukan masalah itu kepada orang lain karena tidak mau dianggap aneh. Kakak terus mempelajari step by step tentang hal itu. Ketika dia letih dia pun sempat memutuskan untuk menghilangkan kemampuannya. Ketika dia datang sendirian tanpa sepengetahuan siapapun ke ustad untuk bertanya tentang hal itu. Ustad menjawab bahwa ada jin yang berada di tubuh kakak. Dan Ustad itu pun meruqyah kakak sampai akhirnya kakak muntah muntah.

Apa yang terjadi selanjutnya? Kakak masih bisa melihat 'mereka' karena kepekaan bukan karena kerasukan. 'Mereka' yang sudah sering dan terbiasa datang ke kakak untuk bercerita dan bersama dengan kakak juga masih sama. Lelah dengan keadaan kakak pun memutuskan untuk menerima keadaannya. Semakin bertambah umur kemampuan kakak semakin meningkat. Kakak semakin jelas bisa melihat 'mereka' dan berkomunikasi layaknya orang dengan orang. Tapi tanpa kakak sadari kemampuannya itu selalu mengundang 'mereka' untuk datang semakin banyak lagi.

Kakak pun sedikit stres dengan hal itu dan memutuskan untuk mulai mengabaikan 'mereka' walaupun terkadang mereka juga pernah membantu kakak dalam beberapa hal. Suatu hari, ada acara sekolah berkemah di desa dekat Alas Roban. Kakak yang mendengar hal itu sedikit ketakutan karena memang dari dulu cerita alas roban begitu populer bahkan sampai sekarang. Mau tidak mau kakak harus ikut acara itu selama tiga hari dua malam. Disinilah gangguan terbesar kakak dalam hidupnya dimulai.

Saya tidak akan memperinci cerita ini tapi hanya akan memberikan cerita singkatnya saja. Hari sabtu tiba, semuanya sudah bersiap untuk berangkat berkemah. Dalam perjalanan menuju ke perkemahan saat melewati alas roban sangat berbeda dengan saat bersama saya di tahun 2008. Karena rute perjalanan dengan jalan yang tidak terlalu bagus dan juga tidak ada satupun warung dipinggir jalan serta suasana hutan yang masih sangat rindang membuat bulu kuduk merinding. Ketika perjalanan para siswa siswi pun terdiam dan seperti saling menatap satu sama lain seolah olah takut dan tahu bahwa sedang melewati hutan yang kabarnya angker itu.

Kakak saya yang melihat makhluk makhluk aneh pun lemas seketika dan pingsan sampai di tempat perkemahan kakak baru sadar. Tak banyak yang kakak ceritakan tentang alas roban, kakak hanya bilang waktu masuk kedalam hutan itu dia seperti masuk kedalam gerbang besar dimensi lain dan melihat banyak sosok aneh dan mengerikan yang menguras semua energinya dan akhirnya pingsan. Ketika kakak sadar pun banyak MG disekitarnya mungkin para MG itu menempel kepada sebagian besar teman temannya.

Salah satu temannya bertanya ketika kakak duduk setelah mendirikan tenda. Teman kakak bertanya kenapa kakak tiba tiba pingsan tapi kakak hanya berkata belum sarapan dan teman kakak pun tidak bertanya lagi. Hari pertama berkemah sedikit aneh, banyak anak anak cewek tiba tiba merasa berat di bagian pundak ketika menjalani hiking bersama. Padahal mereka tidak membawa banyak barang berat tapi mengeluh seperti ada beban berat di pundak mereka.

Setelah acara hiking selesai, semuanya pun bekerja sama untuk mengumpulkan kayu bakar yang sudah dipersiapkan dari sebelum berangkat. Malam tiba, di pertengahan acara api unggun ada dua anak cewek yang kerasukan dan menjerit jerit. Melihat itu, kakak pun panik karena dua cewek itu adalah teman sekelasnya. Kakak pun segera memanggil kakak pembina dan setelah kakak kembali jumlah anak yang kesurupan bertambah menjadi sepuluh cewek dan dua cowok. Para pembina pun kualahan untuk menahan banyaknya anak anak yang kesurupan dan mengambil garam dan berbagai upaya untuk mengusir jin yang ada didalam tubuh anak anak itu.

Kakak yang dulu pernah diruqyah oleh ustad dan diajarkan cara meruqyah diri sendiri pun nekad untuk membantu menyembuhkan teman temannya karena melihat temannya seperti kesakitan mencerit dan berguling guling di tanah dan banyak anak anak lain berhamburan karena takut juga. Kakak pun mencoba untuk tenang walaupun tangannya gemetaran hebat. Dia pun menyuruh dua temannya untuk memegangi temannya yang kesurupan. Kakak pun mecoba membuka lembaran kertas yang dilipat dan dia simpan dari ustad dan membacanya perlahan dengan nada gemetar. Setelah membaca doa di kertas itu reaksi anak yang kesurupan malah tertawa dan menghina hina kakak dengan sebutan 'jancuk, asu' dll yang membuat nyali kakak sedikit menciut. Melihat para pembina yang seperti menaruh harapan ke kakak, kakak pun mencoba mencari sosok sosok disekitarnya. Sosok sosok itu pun terlihat dan kakak sedikit terkejut dengan wujudnya. Kemudian kakak meminta kepada para sosok itu untuk pergi tapi jawaban dari sosok itu mengejutkan. Sosok itu berkata bahwa wilayahnya sudah diinjak injak dan telah mengusik tempat sakral di beberapa tempat yang dilewati siang tadi.

Kakak memutar bola matanya, kakak pun baru teringat bahwa teman temannya usil mengobrak abrik tumbuh tumbuhan dan beberapa benda aneh disekitar hutan dan kini semuanya menanggung resikonya. Kakak pun berlari ke tempat dimana beberapa benda yang diobrak abrik temannya itu berada dengan menggunakan petromaks jadul sekuat tenaga yang jaraknya sangat jauh dari perkemahan. Beberapa pembina pun mengikuti kakak berlari mungkin karena khawatir atau takut kakak juga kerasukan. Dengan lemas kakak pun menyusun beberapa benda yang diobrak abrik teman temannya itu dan dibantu oleh kakak kakak pembinanya.

Kakak kakak pembina pun bertanya darimana kakak tahu kalo dengan cara itu akan mengembalikkan teman temannya. Kakak menggeleng kepala dan bilang tidak tahu, kakak bilang hanya mencoba siapa tahu berhasil. Setelah menyusun benda benda aneh itu kemudian kakak dan para kakak pembina kembali ke perkemahan. Saat sudah sampai semuanya yang kesurupan sudah duduk dengan keringat bercampur pasir di sekujur tubuh dan dengan nafas yang memburu mereka seperti agak ketakutan. Kakak kakak pembina pun berterima kasih kepada kakak dan memastikan apakah kakak bisa berkomunikasi dengan 'mereka'. Kakak hanya tersenyum simpul dan menghampiri teman temannya yang sudah sadar. Sampai pagi hari kakak tidak bisa tidur dan terus terjaga sampai akhirnya diperjalanan pulang teman temannya menyuruhnya tidur di depan bersama kakak kakak pembina.

Karena kejadian tadi malam semua pembina dan pengurus jalannya perkemahan pun memutuskan untuk pulang saja. Setelah kakak memperingatkan teman temannya untuk sopan di tempat lain dan tidak melakukan hal bodoh seperti kemaren, reaksi teman temannya pun beragam. Ada yang berterima kasih tapi ada juga yang menyalahkannya karena terlalu merahasiakan kemampuan kakak dan tidak memperingatkan teman temannya terlebih dahulu. Hemm yang salah siapa ya.

Nah begitulah cerita alas roban di tahun 2002 versi kakak saya. Gak terlalu serem kan? hehe. Kita sebagai makhluk hidup juga harus menghormati 'mereka' dan tempat tempat 'mereka'. Sebagai tamu di rumah 'mereka' kita juga harus punya unggah ungguh adap bertamu yang baik. Sejak saat itu kakak sudah come out sebagai orang yang bisa melihat 'mereka' dan lebih dikagumi oleh teman temannya walaupun sedikit mengganggu karena banyak kekepoan anak anak tentang hal mistis tapi juga takut dengan sosoknya haha, lucu sekali.

Ok deh, mungkin culup disini dulu ceritanya. Jika kalian punya cerita mistis dan seru kalian bisa kirim cerita kalian ke email saya septinodrew@gmail.com. Cerita yang menarik akan saya terbitkan di blog saya hehe. Pesan dari cerita kakak diatas adalah saling menghargai antara yang hidup dan yang tidak lagi hidup dan di alam yang lain. Akhir kata, jangan usik 'mereka' jika tidak ingin mendapatka resikonya. Septino Wibowo