Thursday, September 14, 2017

Pengalaman Mistis: Diikuti 3 Setan di Gang SD Katholik

Halo guys, kangen ya? hehe maaf beberapa hari gak bikin cerita gara gara diajakin ke rumah kakak buat beberapa hal. Baru pulang tadi pagi dan langsung bobok ganteng. Sekarang ini saya akan memenuhi request banyak sobat reader setia blog saya tentang pengalaman paling ngeri pas masa sekolah. Sebenarnya ada banyak sih tapi saya ceritakan satu hal ini yang paling gak bisa saya lupakan. Kejadian ini sangat membuat saya stres dan tidak bisa fokus belajar, energi terkuras entah kenapa, dan pusing tiba tiba beberapa saat.

Septino Wibowo
Kembali ke masa SMK, 2 tahun lalu
Saya sering dijuluki siluman internet atau hantu internet oleh teman teman saya karena seringnya nongkrong di warnet hampir setiap malam, habis sekolah dan waktu senggah kalo tidak ada kegiatan di Panti dan sekolah. Awal tahun 2015 merupakan awal yang buruk bagi saya, karena saya sedang merasa stres berat karena ketidak nyamanan saya berada di Panti dengan segudang peraturan dan kegiatan dan juga pengasuh yang tidak sejalan dengan pemikiran saya. Saya sering melanggar memakai hp di Panti, saya tahu itu dilarang maka dari itu sering hp saya tersita entah berapa jumlahnya saking banyaknya saya lupa dan tidak ingin mengingat ingat kenangan pahit itu. Memiliki hp bukanlah hal yang sengaja saya inginkan hanya untuk buka facebook. Karena informasi mengenai teknologi, pelajaran dan hal yang ingin saya pelajari secara autodidak ada di internet semuanya dan dengan hp saya bisa dengan sangat mudah mendapatkan ilmu yang saya inginkan yang tidak akan pernah ada di sekolah manapun.

Kembali ke cerita. Jadi, Awal tahun saya dihukum dua kali. pertama karena tidak ikut kenaikan tingkat silat di Panti. Hal ini memang sudah saya rencanakan dengan sepupu saya Bayu dan teman saya Anwar karena muak dengan segala aturan dan ingin memberontak. Akhirnya kami bertiga di skors dipulangkan selama sebulan dan mau tidak mau saya harus menempuh perjalanan total 4-6 jam pulang pergi sekolah karena rumah saya di Tayu dan menuju Rembang bukanlah sesuatu yang mudah. Terkadang ada bus yang datang sangat pagi ada juga yang tidak. Sering kali saya terlambat dan akhirnya kena hukum, itu sudah biasa. Sampai menghabiskan banyak uang karena uang bus saja sudah mahal ditambah uang saku saya yang agak berat membuat saya makin muak dan ingin keluar dari sekolah dan Panti.

Tapi ketika saya ingat perjuangan ibu dan keluarga untuk menyekolahkan saya. Saya sadar bahwa saya sudah melewati batas, mau tidak mau saya akan selalu berada di lingkaran kemuakan sampai masa itu berakhir. Ketika hukuman sudah berakhir, saya tidak hentinya membuat masalah, dan sekali lagi hp saya disita dan semua hp yang disita itu tidak dikembalikkan tapi entah dijual atau apalah, sungguh memuakkan. Suatu malam itu, pengasuh bilang untuk pergi dari Panti saja, mendengar itu emosi saya meluap dan besok paginya saya pulang kampung.

Dalam hal ini, saya sudah muak. Dari awal saya tidak ingin melanjutkan sekolah karena menurut saya sia sia saja jika saya tidak akan memperhatikan pelajaran karena tidak suka dengan sebagian besar pelajaran sekolah yang menurut saya tidak akan berguna untuk hidup di dunia umum. Tapi nasi sudah menjadi bubur, saya harus menganggung resiko apapun itu dan akhirnya ke dua mbak saya menyuruh saya ngekos saja. Seesokan harinya setelah pulang sekolah saya mencari kos ditemani teman saya Hadi.

Kami mencari kos yang murah tapi sayangnya tidak ada kamar kosong dan terpaksa saya ngekos di tempat yang menurut saya mengerikan. Kos ini dipenuhi orang orang pekerja kantor dan lainnya dan tidak ada satupun anak sekolahan yang ngekos disini. Saya melihat sekitar kos, penuh dengan aura yang tidak enak untuk saya rasakan. Pohon besar didepan kos menjadi perhatian saya karena beberapa dari mereka memperhatikan saya setelah saya melihat mereka. Saya pun akhirnya mau tidak mau harus terpaksa lagi mengekos disini karena tidak mungkin saya pulang pergi dengan waktu selama itu hampir sama dengan waktu sekolah saya.

Hari pertama, saya membawa beberapa baju dan perlengkapan sekolah lainnya, sangat melelahkan tapi saya merasa sedikit lega dan puas karena tidak ada larangan apapun dan tidak ada yang memerintah saya melakukan apapun. Saya merasa tali yang menjerat leher saya putus dan saya bisa bernafas lega. Tapi hal itu tidak lama, malam hari ketika saya ingin ke warnet. Saya tidak sengaja melihat sosok mbak kunti berada di pojok gerbang sebelah pohon gede kos depan. Saya pun kaget dan berjalan cepat.

Saya memilih jalan ke arah panti karena jalan yang paling cepat adalah melewati gang itu. Saya tidak perduli jika ada anak panti atau pengasuh melihat saya. Saya pun masuk gang Sekolah Dasar Katholik yang terkenal angker. Benar saja, waktu jam di hp saya menunjukkan jam 1 dini hari dan saya pun disambut oleh beberapa makhluk yang tidak saya ketahui namanya karena dari bentuknya sangat asing bagi saya. Sosok pertama berambut panjang, seperti menempel pada tembok, sosok kedua memiliki banyak jemari yang panjang dan wajah yang.... hadehh gak perlu diceritain dah saya aja gak mau bayangin lagi tuh muka jelek + serem abis. Sosok ketiga merupakan sosok cantik tapi ketika saya melihat sedikit lama berubah menjadi mengerikan. Saya pun tidak jadi lewat gang itu dan berjalan cepat melewati jalan kecil lurus yang ada warung kopinya di sisi kiri jalan.

Setelah saya sampai di warnet, pikiran saya kacau. Mau ngerjain blog dan Youtube jadi blank dan tidak tahu kenapa saya tidak merasa nyaman karena suhu disekitar saya berubah drastis menjadi agak panas. Saya pun memejamkan mata dan berdoa sebisa saya. Ketika saya membuka mata, saya pun melihat layar monitor yang mati dan memperlihatkan pantulan wajah saya dan ada sosok hitam berada dibelakang saya. Saya pun tidak tahan lagi dan memutuskan untuk kembali ke kos. Saya pun melewati jalan lurus ke kiri jalan agar bisa langsung ke arah kos melewati jalan kecil belakang SMK. Yah dan jeng jeng jeng. Sosok itu ternyata mengikuti saya dan membuat saya merasa mual. Saya mulai berpikir kenapa mereka mengganggu saya, saya tidak pernah melakukan hal negatif pada mereka. Atau mungkin karena saya tidak merespon mereka ya?

Saya pun akhirnya memberanikan diri langsung ke kamar saya tanpa memperdulikan mereka yang menatap saya dari sudut sudut kosan yang membuat saya hampir gila keringat dingin berkucuran. Saya akhirnya mencoba untuk sholat malam dan membaca alqur an beberapa halaman. Kemudian saya mencoba untuk Astral Projection dan melihat dunia mereka disini. Setelah sama masuk ke ruang hitam, saya tidak menemukan mereka disana. Ada beberapa anak kecil menangis dan bermain batu kecil dengan melemparkan nya keatas dan menangkapnya. Ada dua wanita tua melihat saya dan berkata sesuatu dengan lantang "Jangan ganggu anakku" dengan nada sedih dan semakin mendekat. Saya pun melihat ada seseorang di sebelah kanan ruangan, ternyata ada orang yang melakukan Astral Projection juga seperti saya.

Dia seorang orang dewasa seumuran kakak saya. Dia datang menghampiri saya dan bertanya, "Adek anak baru disini? Ngerasa diganggu?". Saya pun mengangguk, orang itu pun berkata lagi, "Mereka suka yang berbeda, mereka cuma ingin disapa. Jangan takut karena mereka adalah penjaga tempat ini". Saya pun mengangguk lagi, tapi dia terkejut setelah melihat sosok yang berada dibelakang saya, sosok itu adalah sosok yang ada di depan SD Katholik tadi. Saya pun juga kaget dan melihat makhluk itu membuka rahangnya lebar lebar. Saya dan orang itu pun mundur perlahan, dan dua nawita tua itu pun datang dan terlihat marah sembari berkata, "Jangan ganggu anak saya!!!", dua orang tua itu menunjuk ketiga makhluk itu dan mengusir mereka. Setelah itu dua orang tua itu berkata, "Janga bawa makhluk hina itu lagi kesini anakku" dan mereka pun menghilang entah kemana. Aku dan orang itu pun berpamitan dan kembali ke tempat kami masing masing.

Setelah saya membuka mata, saya melihat orang tua itu berada disebelah saya, dia tersenyum dan meninggalkan sehelai rambutnya. dia mengikatkan rambutnya itu di tangan kiri saya kemudian pergi. Saya pun melongo karena tidak ada lagi makhluk lain yang berada di ruangan saya padahal tadi rame banget lalu lalang berisik di ruang cuci juga. Saya pun merasa sedikit lega dengan hal ini dan berharap 3 setan itu tidak kembali datang. Saya pun tidak akan melewati gang SD Katholik itu lagi jika malam hari hehe.

Gang SD Katholik
Begitulah cerita saya yang menurut saya cukup ngeri karena saya tidak pernah merasa setakut itu dengan makhluk astral sebelum kejadian Puncak Argopuro part 1 dan 2. Saya pun senang penjaga kos itu ternyata baik dan tidak seperti yang saya kira. Saya pun berpikir lagi akan menjadi lebih memerhatikan 'mereka' jika tidak berbahaya untuk saya. Penjaga kos itu tidak membiarkan makhluk astral yang jahat masuk kedalam.

Walaupun tempat kos saya terlihat seram, tapi ternyata sangat nyaman dan sampai sebulan disana saya pun betah betah saja karena pemilik kos cantik yang ditaksir sepupu saya Bayu walaupun tahu kalo punya anak satu selalu memberi saya makanan gratis jika ada syukuran di rumahnya. Setelah sebulan disana, saya dipanggil ke Panti kembali karena mbak saya memohon kepada pihak Panti untuk saya kembali. Saya yang tidak ingin semakin menambah beban keluarga pun harus rela menginggalkan tempat kos yang sudah nyaman bagi saya ini. Saya pun berpamitan kepada dua orang tua dan anak kecil itu lewat batin dan kembali ke nasib sial saya.

Ok guys, mungkin sampai disini dulu ceritanya ya, semoga cerita diatas bisa menjadi pembelajaran dan menghibur kalian semua. Ok saya sudah memenuhi request kalian semua. Tunggu cerita lainnya di update an selanjutnya. Jangan menilai orang dari luarnya jika kalian belum mengenal orang itu lebih dalam sampai tahu dia yang sebenarnya. Akhir kata, 'mereka' selalu ada disekitar kita. Septino Wibowo