Sunday, September 10, 2017

Sejarah Hantu: Kisah Si Sipit Riang Gembira Suna/ Sun Chien

Halo guys, banyak dari 'mereka' yang ingin berteman dengan saya. Banyak sekali yang berpura pura baik untuk mendapatkan perhatian saya. Tapi, hanya beberapa dari 'mereka' yang saya anggap murni baik dan tidak berdusta tentang cerita mereka ketika masih hiduplah yang membuat saya belajar dan terus memaknai hidup dengan sebaik mungkin.

Septino Wibowo
Seperti kalian ketahui, saya memiliki tiga sahabat kecil dari kecil yaitu para sahabat nenek buyut yang masih ingin terus bermain di dunia. Bukan salah 'mereka' jika tidak bisa atau tidak mau menyebrang dan damai di alam baka. Entah kenapa 'mereka' lebih senang tinggal denganku dari zaman nenek buyut masih ada sampai tiada ke generasi nenek dan berlanjut ke saya. Di keluarga, tak semuanya dekat satu sama lain. Bahkan ibu dan kakak kakak perempuan tidak mengenal saya dengan baik dan tidak bisa mengerti saya sepenuhnya. Saya tidak menyalahkan Tuhan atas takdir yang diberikannya sebagai anak broken home yang memiliki seorang ayah bajingan. Saya hanya ingin kasih sayang sebuah keluarga, dan itu tidak bisa saya dapat sepenuhnya.

Dari kecil, nenek lah sang pengasuh saya selagi mamak bekerja banting tulang menjual kue jajanan pasar dari pagi buta sampai sore hari. Sementara kakak kakak perempuan saya sudah bekerja semuanya karena jarak umur kami yang begitu jauh yaitu 18 tahun dengan kakak perempuan saya yang pertama dan 17 tahun jarak antara umur saya dengan kakak perempuan saya yang ke dua. Saya sering di rumah sendirian bersama nenek, terkadang bermain dengan 'mereka' membuat saya lebih senang. "ANEH", itu julukan saya dulu. Bukan hal yang mudah menjalani hidup dengan beradaptasi dengan makhluk dua dunia. Saya sempat hampir tidak bisa membedakan mereka semua, saya hampir stres sendirian dan tidak ada satu dari keluargapun yang tahu kecuali Almh. Nenek saya.

Saya dan kakak kakak perempuan saya memang tidak ada kedekatan sama sekali dari kecil sampai sekarang pun hanya berkomunikasi biasa walaupun sekarang sudah jauh lebih baik tapi tetap saja mereka tidak pernah bisa memahami saya yang sebenarnya. Apa mereka tahu saya bisa berkomunikasi dengan 'yang tak terlihat'? Tidak ada yang tahu dan saya pun tidak pernah berkata apapun tentang yang saya alami kepada mereka. Bagi mereka saya dulu waktu kecil adalah si cengeng yang sangat penakut. Bahkan buang air kecil dan buang air besar saya menyuruh ibu untuk menunggu di depan pintu kamar mandi. Ini bukan tanpa alasan atau karena saya yang terlalu penakut, karena saya memang takut dengan 'wujud mereka' yang tidak biasa. Ada pepohonan bambu dibelakang rumah saya, dan juga pohon besar yang masih kokoh berdiri dari dulu sampai sekarang.

Disanalah semua mimpi buruk saya ada, disanalah tempat para dedemit yang sudah puluhan tahun atau mungkin ratusan tahun sudah mengecap bahwa disanalah tempat kerajaan mereka. Bagaimana saya melewati semua itu? Tentu saya tidak sendirian. Ketika saya TK besar dan berumur 5 tahun, awal mula saya bisa melihat dan berkomunikasi dengan 'mereka' membuat saya tahu bahwa nenek tidak sendirian ketika di rumah dengan saya. Nenek ditemani tiga anak kecil yang sering bermain mengelilingi nenek dan berlarian di rumah yang sempit ini. Saya pun tertarik menyapa mereka karena mereka melihat saya begitu antusias. Kami pun berteman setelah mereka memperkenalkan diri dan mengajak saya bermain petak umpet. 'Mereka bertiga' ingin saya menjaga rahasia mereka sampai saya mati. 'Mereka bertiga' anak kecil yang sudah tua, mereka tidak kenal waktu dan tak pernah berganti baju. Mereka' sangat baik dan datang ketika saya dalam keadaan sulit.

18 tahun, Nenek meninggal di hari kamis ketika saya sedang menjalankan ujian nasional terakhir mata pelajaran Teknik Komputer dan Jaringan. Saya pulang ke kampung halaman ditemani oleh satu pengasuh favorit saya, Mas Rozikin. Berita ini sangat memukul hati saya dan rasanya sangatlah hampa jika nenek sudah tiada. Tidak ada lagi tempat curhatan saya, tidak ada lagi tempat dimana saya bisa bercerita tentang hal gila yang hanya nenek sajalah yang bisa memahaminya. Saat itu saya sangat berharap nenek meninggal dengan bahagia karena saya tidak akan mau melihat nenek tersangkut seperti teman kecil saya. Saya pun pulang dan sosok nenek tersenyum didepan pintu ketika saya dengan cepatnya berjalan meninggalkan mas rozikin yang sudah mengantar saya sampai lupa untuk perpamitan. Air mata saya tak terbendung lagi, Beliau tersenyum dan berkata, "Jaga tiga teman nenek".

Kakak perempuan saya yang kedua Mbak Iis atau yang biasa saya panggil mbak is datang dengan tangisnya dan memeluk saya erat. Ini pertama kalinya saya merasakan pelukan seorang saudari kandung beda ayah dan satu rahim. Kami larut dalam duka, saya pun menuju kamar saya dan duduk dengan tetesan air mata yang tak kunjung reda. Ibu saya datang dengan mata yang bengkak dan mengelus elus punggung saya. Ibu tahu bahwa neneklah yang paling dekat dengan saya di keluarga ini dan itulah sebabnya keluarga menunggu kedatangan saya untuk melanjutkan pemakaman nenek. Setelah ibu pergi menemui para tamu yang terus berdatangan, saya pun sendirian di kamar dan merenung. Tiba tiba tiga teman kecil saya datang dan menatap saya sendu, nenek datang disamping saya dan tersenyum melihat saya sudah bertumbuh dewasa yang masih labil dan tidak bisa menurut apa kata beliau.

Kemudian nenek berpamitan, tiga teman kecil saya pun menangis ketika nenek menghilang. Saya pun sebisa mungkin menahan tangis saya dan melihat mereka bertiga meluapkan emosi mereka. Sun kemudian berkata, "Akankah kamu berteman dengan kami seperti kata Jamilah?" (Jamilah nama nenek saya). Saya pun mengangguk dan Sun pun tersenyum, Mahdi dan Noah ikut tersenyum dan menuntun saya dan menunjuk buku yasin. Saya pun paham dan segera bergabung dengan yang lainnya, sanak sodara dari Lasem, Juwana dan lainnya pun memenuhi ruangan dan kursi diluar rumah. Setelah saya selesai membaca yasin, saya pun melihat wajah nenek yang tampak cantik dengan kulit putih dan wajah yang cerah, dalam hati saya berdoa semoga dosa nenek terampuni dan amal ibadahnya diterima. Karena nenek dari kecil tidak memahami agamanya, dan baru beberapa tahun ini sholat dengan sangat rajin. Saya maklum akan hal itu karena keterbatasan lah nenek seperti itu.

Nenek terlihat sangat baik seperti sedang tidur didalam peti berselimutkan kain kafan. Pemakaman pun dilanjut dan tiga sahabat kecil saya ikut ke pemakaman juga. Setelah selesai, saya pun menghela nafas panjang dan mencoba mengikhlaskan kepergian nenek untuk selamanya dan berharap suatu saat nanti ketika saya menyusul nenek dapat bertemu dengannya lagi.

Malam hari, saya pun memutuskan untuk tidur di kasur nenek, keluarga saya yang mayoritas penakut super heran dengan saya yang sangat pemberani sejak SMP, saya pun tidak pernah berkata apapun kepada mereka tentang hal yang saya alami selama ini. Saya pun mengabaikan mereka dan tidur ditemani tiga sahabat kecil saya. Kemudian Noah berkata, "Ini sudah saatnya kamu tahu tentang cerita kami seluruhnya, kami harap kamu bisa selalu bersama dengan kami. Kami berjanji akan menjaga anak dan cucumu kelak seperti kami menjaga anak cucu Jamilah sampai sekarang". Saya pun tersenyum dan antusias dengan cerita mereka. Dan mereka satu persatu menceritakan kisah mereka dengan meminta saya mengulurkan telapak tangan saya dan saya menerima cerita mereka seperti saya sedang berada didalam cerita itu. Dan yang terakhir adalah Sun. Sun yang paling riang gembira pun malu menceritakan kisahnya kepadaku sampai akhirnya dia berkata, "Aku harap kamu tidak memberitahu kisahku kepada siapapun". Saya pun mengangguk dan dia mulai bercerita.

Tanggal 9 September 2017, Saya meminta izin kepada Sun untuk menceritakan kisahnya dan dia sempa ngambek karena saya tidak menepati janji saya. Akhirnya Noah yang paling bijak memberitahu dia untuk tidak khawatir karena cerita yang saya share kepada semuanya adalah cerita yang tidak akan ditail dan mempermalukan dia. Akirnya Sun mengerti dan mengizinkan saya menceritakan kisahnya hanya sebatas hal biasa karena dia tahu saya dapat mengingat hal seditail apapun jika saya ingin mengingatnya.

Saya harap kalian tidak kecewa jika cerita Sun ini cukup singkat, karena dibalik keceriaan Sun ada rasa sakit yang luar biasa yang ia tutupi dengan senyumnya. Dan sifat Sun sama persis dengan saya, tidak ingin seorangpun tahu tentang saya dan mengetahui masalah saya apapun itu dan selalu menutupi segalanya dengan senyuman dan tawa diantara banyak orang.

Cerita dimulai,
Sun Chien, itulah nama anak kecil bermata sipit berambut gundul dan paling kurus diantara dua temannya. Sun anak kecil dengan keterbatasan suara yang gagap dan tidak bisa melihat dengan mata kirinya karena insiden ketika ayahnya marah kepada ibunya dikarenakan ingin mengasuh Noah yang orang tuanya sudah terbunuh semua. Sun yang tidak tahu apa apa disalahkan karena terlalu dekat dengan Noah dan dipukul kepalanya sampai Sun jatuh dan mata kirinya terkena serpihan gedek (sebagai tembok dari anyaman bambu yang disusun tipis tipis).

Telinga Sun berdarah dan mata kiri Sun tertutup rapat karena perih. Sun pun menangis dan berteriak histeris sampai akhirnya pingsan. Kala itu yang tak banyak pengobatan ditemukan walaupun orang tiong hoa di kala itu sangat cerdas tapi mata kiri Sun tidak dapat tertolong dan buta sebelah. Sun yang sangat riang menjadi pemurung dan sering menangis dipelukan Noah. Noah yang sudah seperti saudaranya sendiri sering menghiburnya dan menasihatinya bahwa Sun masih beruntung memiliki orang tua sedangkan dia hanya menumpang hidup.

Perlahan tapi pasti, Sun mulai pulih, walaupun dengan keterbatasan pernglihatan dan telinga yang tidak sempurna dia masih bisa tetap tersenyum karena adanya Noah, Mahdi dan Nenek buyut. Ayah Sun pun mulai sadar bahwa Noah bukan anak yang nakal walaupun keturunan seorang penjajah belanda. Dia sangat baik dan santun juga perhatian kepada Sun anaknya dan juga sering membantu menyiapkan makan dan membersihkan rumah. Suatu malam, Ayah Sun ingin berkumpul dengan istri, Sun dan Noah. Ayah Sun meminta maaf kepada Noah dan Sun dan berjanji akan menyayangi mereka berdua.

Keadaan mulai membaik sampai hari itu datang. Mahdi, Noah dan Sun yang tewas tertembak membuat Ayah ibu Sun sengsara dan sangat terpukul. Noah dan Sun yang menemui mereka pun tidak bisa berbuat apa apa ketika ibu ayah mereka tidak bisa melihat dan berbicara kepada mereka. Sun pun menangis dan Noah kembali menenangkan Sun. Kesedihan Sun bertambah ketika melihat ibunya bunuh diri dengan terjun bebas kedalam sumur dan Ayah Sun yang mencoba menolong ikut tenggelam dan tewas. Itulah kesedihan Sun yang paling dalam yang sampai sekarang membuatnya menangis ketika diingatkan. Maaf saya tidak bisa menceritakan ditailnya karena saya pun gemetar mengetik cerita ini, begitu sulit dan tak terbayang kehilangan orang yang disayangi.

Cerita diatas adalah cerita yang paling singkat karena Sun tidak mau kisahnya membuatnya kembali sedih karena dia tidak pernah bertemu dengan ayah ibunya lagi walaupun di dunia yang sama.

Mungkin cukup sekian dulu ya ceritanya, next bakal ada cerita dua bersaudara yang juga getir ceritanya. Untuk cerita Sun dipersingkat saja saya harap kalian maklum jika paham dengan keadaan saya. Semoga cerita cerita diatas mengenai saya juga Sun dan dua sahabatnya bisa menjadi pelajaran hidup yang sangat berharga untuk kalian semua. Karna keluarga adalah tempat tinggal yang tak bisa tergantikan, jaga dan dekatlah dengan keluarga kalian semua. Jangan buang waktu kalian untuk hal duniawi dan melupakan cinta kalian kepada keluarga. Akhir kata, 'Mereka' selalu ada disekitar kita. Septino Wibowo