Tuesday, October 31, 2017

Berbicara Dengan 'Ular Jadi-Jadian'

Halo guys, kali ini saya akan berbagi cerita yang cukup aneh tapi menarik untuk dibahas. Pernahkah kalian melihat orang yang berbicara dengan ular? Seperti... benar benar berbicara satu sama lain dan paham apa yang lawan bicaranya ucapkan? Hmm.. apa itu aneh? Menyeramkan? atau Gila? Mungkin semua pernyataan itu benar. Ya kali ini kita akan membahas orang yang berbicara dengan ular.

Septino Wibowo
Eiitt, tapi jangan salah sangka dulu, disini bukan saya yang berbicara atau berkomunikasi dengan ular tapi seseorang yang sering dipanggil paranormal. Ya, saya pernah bertemu orang yang mengaku paranormal, bukan dengan dandanan serba hitam dan memakai belangkon, tapi malah justru tampil layaknya kids jaman now haha kalo orang bilang anak gaul lah.

Dengan dandanan seperti itu siapa yang mengira orang itu adalah paranormal? Ya dari auranya memang berbeda, saya sedikit terkejut ketika dia bilang anak anak saya ngikutin saya di belakang (Mahdi cs) padahal temen temen kecil bukan anak hadehh. Tapi hal yang saya suka dari orang ini adalah cara bicara yang sangat tenang dan memakai kosa kata yang jarang orang umum pakai untuk berbicara sehingga saya yang mendengarkan pun ikut berpikir dengan apa yang orang ini katakan.

Yogyakarta, Daerah ini benar benar istimewa. Hanya dalam hitungan hari saya berkeliling saya bisa merasakan kedamaian yang jarang saya rasakan di daerah lainnya. Daerah ini benar benar bagus, Sleman.

Saya bertemu dengan orang ini di tempat itu. Ketika saya sedang menunggu bus untuk ke tempat lain kemudian orang ini duduk disebelah saya dan berbisik, "anak anaknya juga ikut?" sambil tersenyum
Saya awalnya kaget dengan apa yang dikatakan orang ini, tapi Mahdi sudah tersenyum lebar melambai kearah orang ini seperti memberi isyarat bahwa orang ini bukanlah orang jahat.

Kami berbincang bincang sekitar 10 menit sampai akhirnya bus datang. Karena tujuan tempat kami sama, maka kami pun duduk bersebelahan di dalam bus dan melanjutkan perbincangan kami sebelumnya. Dia bernama Aryani, berumur sekitar 30 tahunan dengan gaya modis anak jaman sekarang saya hampir saja tertipu karena dari wajahnya memang tidak tampak tua sama sekali, dan dia tidak pake susuk ya hehe.

Wanita ini sudah berkeluarga dan memiliki 1 anak laki laki berumur 5 tahun. Karena orang ini adalah orang sunda jadi saya panggil Teh Yani, sebenernya dia yang nyuruh saya panggil gitu sih hehe. Kalo saya panggil tante pasti marah hehe.

Melanjutkan pembicaraan tadi, Teh Yani tinggal di Jogja karena ikut suami. Teh Yani menawarkan kepada saya untuk berkunjung ke tempat dia sering mengajar silat dan ingin mengenalkan saya kepada suami dan anaknya, karena katanya anaknya juga bisa 'melihat mereka'. Saya pun dengan senang hati mau saja tanpa ada sedikit keraguan dan kecurigaan kalo saya akan dirampok atau hal buruk lainnya. Karena bisanya sebelum hal buruk seperti kerampokan dan hal buruk lainnya terjadi saya mendapatkan firasat gk enak atau gk nyaman serta kecurigaan yang tinggi.

Tapi kali ini saya merasa tidak ada bahaya yang akan datang. Saya pun mengurungkan niat saya ke tempat bersejarah untuk sementara karena tempat Teh Yani pun tidak jauh dari tempat bersejarah itu. Sesampainya di tempat tujuan, banyak sekali anak kecil dan anak remaja yang sedang latihan silat. Anak anak pun bersalaman dengan Teh Yani dan entah kenapa mereka juga ikut menyalami saya sampai mencium tangan saya. Saya sedikit canggung jika diperlakukan seperti orang tua seperti ini, kan umur saya cuma beda beberapa tahun dari mereka hehe.

Setelah masuk ke dalam tempat latihan, ada seorang berkulit sawo matang sedang duduk seperti meperhatikan anak anak berlatih. Itu suami Teh Yani. Kami pun berkenalan, dan anak Teh Yani tiba tiba datang dari belakang saya berkata, "Saya boleh main sama mereka?" sambil menunjuk ke arah Mahdi cs. Saya hanya mengangguk saja, Teh Yani hanya tertawa dan juga suaminya. Hmm beruntung banget ya bisa bertemu dengan orang orang yang mengerti dan menerima kemampuan seperti ini.

Kalo di luaran sana pasti sudah banyak yang mengejudge seperti, dasar anak jin, atau teman jin, atau kerasukan jin atau bahkan menghina dengan sebutan dasar makhluk terkutuk. Itu adalah sayatan perih yang susah untuk dilupakan dan disembuhkan tapi dengan bertemu orang orang seperti ini merupakan obat yang mujarab dimana ada tempat untuk orang orang seperti saya.

Setelah itu, Teh Yani mengajak saya untuk melihat dan menyaksikan latihan malam hari seperti uji nyali. Yaa walaupun saya sendiri agak takut kalo melihat sosok yang aneh aneh karena pasti sangat lelah setelahnya tapi saya tidak bisa menolak karena mereka sudah baik sekali dengan saya.

Malam hari tiba, sekitar jam 10 malam saya, Teh Yani dan suaminya serta beberapa orang lainnya sepertinya para pelatih juga memasuki kawasan untuk uji nyali dan mengecek keadaan apakah tidak ada masalah. Teh Yani yang paling sensitif diantara kami pun kerasukan, Suaminya dan beberapa orang lainnya mencoba untuk mengobatinya. Teh Yani yang medok banget bahasa sundanya mendadak fasih berbahasa jawa terutama bahasa ngoko kasar hehe. Teh Yani seperti kerasukan seekor macan dan mencoba memberontak.

Tapi dengan sigap semuanya ikut memegangi Teh Yani termasuk saya. Saya mulai mengalami gangguan seperti ada sesuatu dibelakang saya yang mendorong mencoba masuk, Para penjaga saya yang tidak bisa masuk kawasan uji nyali tidak bisa membantu saya. Saya mencoba berkonsentrasi dan menenangkan diri supaya tidak ikut kerasukan tapi nyatanya gagal.

Untuk kedua kalinya dalam hidup saya kerasukan lagi. Saya tidak ingat apapun setelah itu. Ketika saya bangun saya berada di tempat pos penjaga kuburan. Kepala saya terasa nyut nyutan, saya kemudian melihat beberapa orang dibelakang saya sedang berdoa. Salah satu dari mereka menegur saya dan memberi saya air minum yang sudah didoakan. Saya pun meminum air itu seperti orang kehausan dan mengeggak air sampai habis.

Teh Yani yang masih belum sadarkan diri membuat suaminya tampak panik. Jam sudah menunjukkan setengah 12 dan uji nyali dimulai jam setengah 1 dini hari. Beberapa orang bilang daerah sekitar uji nyali sudah diamankan tapi beberapa bagian belum karena katanya terlalu banyak aura negatif dan kemungkinan tidak akan digunakan tempat uji nyali.

Setelah Teh Yani bangun, Teh Yani meminta maaf kepada semuanya dan kepada saya juga. Kemudian kami melanjutkan mengecek tempat yang beraura negatif itu. Dan wow, seperti ekspektasi saya sebelumnya. Makhluk makhluk berwujud aneh, bukan berwujud manusia lagi tapi lebih serem menampakkan diri sampai salah satu pelatih yang orang biasa juga melihatnya. Setelah itu ada ular hitam berukuran sekitar selengan orang dewasa menghampiri kami.

Suasana tiba tiba sangat gerah, saya berkeringat sampai baju saya hampir basah keringat. Ya mungkin keringat dari tadi kerasukan tapi ini malah bertambah lagi membuat baju saya basah keringat. Teh Yani dengan beraninya mendekati ular itu. Tangannya ditarik tarik suaminya tapi Teh Yani tetap saja maju. Kemudian Teh Yani berbicara dengan bahasa yang tidak satu orang pun disini tahu termasuk saya.

Anehnya, ular itu seperti mengerti dengan lebih merendahkan kepalanya yang sudah tegak tadinya. Setelah Teh Yani berbicara dan menunjuk kearah sumur tua, ular hitam berukuran gede itu pun pergi seolah olah disuruh majikannya untuk pergi. Itu pertama kalinya saya melihat orang berbicara dengan hewan. Setelah itu, Teh Yani bilang pada semuanya bahwa lokasinya sudah aman dan uji nyali bisa dimulai.

Waktu uji nyali pun dimulai, saya duduk meminum teh hangat karena tidak suka kopi disebelah basecamp pos terakhir bersama Teh Yani Suaminya serta dua orang pelatih lainnya. Suami Teh Yani bilang ketika saya kerasukan ada beberapa yang masuk sehingga susah untuk dikeluarkan dan baju saya sampai basah keringat dan tanah kuburan. Teh Yani kemudian bilang bahwa ular tadi adalah ular jadi jadian penjaga tempat ini. Ular itu akan menampakkan diri kepada setiap orang yang tidak izin dan memberi makan berupa sesajen dll.

Jam 4 pagi saya mandi dan setelah itu tidur sampai jam 9. Kemudian setelah itu saya berpamitan kepada Keluarga Teh Yani. anak Teh Yani nampak sedih akan berpisah dengan Mahdi cs tapi saya bilang kalo ingin memanggil Mahdi cs nyanyi gundul gundul pacul aja hehe. Saya pun melanjutkan traveling saya seorang diri untuk menulis sejarah lain dari sisi lain dunia Yogyakarta yang bersejarah.

Ok guys, mungkin ceritanya cukup sampe disitu dulu ya. Semoga cerita diatas bisa menjadi pelajaran bagi kita semuanya dan menghibur kalian semua. Ingat! Selalu permisi ketika menjadi 'tamu'. Septino Wibowo