Sunday, October 8, 2017

Cerita Gubuk Tua Ditengah Sawah

Halo guys, maaf beberapa hari ini jarang bikin cerita karena kesibukan pribadi. Kali ini saya akan bercerita tentang horrornya gubuk tua ditengah sawah desa saya. Cerita tentang hantu gubuk ini sudah lama terdengar oleh banyak anak kecil di desa tapi apa benar ada hantu di gubuk itu? Yuk baca cerita lengkapnya.

Waktu kecil, sekitar kelas 4 SD, saya gemar sekali bermain layangan di sawah. Alasan saya suka bermain layangan di sawah karena anginnya yang agak kencang sehingga lebih cepat untuk menerbangkan layangan. Bukan hanya itu, saya juga lebih suka membuat layangan sendiri, walaupun kerangkanya dari bekas layangan yg sudah rusak tapi saya membuat bodynya dengan kreasi kertas koran dan lem nasi hehe.

Septino Wibowo
Ketika sekitar jam tiga sore, saya membawa layangan kreasi saya dan juga gulungan bola senar yang sangat panjang ke sawah bersama beberapa teman saya. Saya suka sekali bermain di sawah karena disana rupanya tempat berkumpulnya 'mereka' yang senang didatangi anak kecil seperti kami. 'Mereka' begitu ramah dan juga tidak mengganggu.

Sore hari pun tiba, hampir dua jam kami bermain layang layang tapi ketika kami melihat gubuk tua yang terlihat kecil dari kejauhan kami berdiskusi. Teman saya yang satunya penasaran tentang mitos hantu di gubuk tua dekat rumbukan pohon tebu itu, teman saya yang satunya tidak berani untuk kesana malam malam dan saya juga tidak berani malam malam berkeliaran ditengah sawah yang sangat luas ini.

Akhirnya kami memutuskan minggu pagi untuk pergi berjelajah ke sawah, sambil mengambil (nyolong) tebu yang manis dan semangka kecil kecil sambil melihat gubuk tua yang sering dimitoskan banyak penghuninya itu.

Hari minggu pun datang, saya pun bangun pagi buta, jam 5 pagi saya dan teman teman saya pergi ke sawah membawa senter kecil, pisau, dan tali. Kami siap berjelajah. Sawah terlihat sangat damai dipagi hari. Udara segar yang terhirup membuat semangat kami semakin membara. Kami pun berjalan melewati jalan garis kecil yang hanya bisa dilewati satu orang saja dan terus seperti itu. Di tengah perjalanan kami bernyanyi dan sedikit bercerita seram tentang gubuk tua itu.

Saya yang paling kecil pun ditakut takuti tentang mitos hantu tanpa kepala dan wanita bertubuh ular. Saya sedikit tersenyum karena geli dengan cerita yang menurut saya tidak masuk akal. Kami pun terus berjalan sampai akhirnya sampai di depan gubuk tua itu. Hal pertama yang kita lakukan adalah masuk kedalam gubuk itu. Walaupun matahari sudah mulai muncul tapi suara jangkrik yang memekakan telinga terus berbunyi. Didalam gubuk tidak ada apapun kecuali tumpukan jerami. Salah satu teman saya pun berbicara dengan lantang menantang penghuni gubuk untuk muncul. Tapi yang saya lihat 'mereka' bukan penghuni gubuk yang jahat. Bahkan 'mereka' hanya diam ketika teman saya menantang 'mereka' untuk menampakkan diri 'mereka'.

Sosok anak kecil bermata lebar menghampiri didepanku lalu berbisik, "Pergi dari sini, banyak hewan biadab". Mungkin yang dimaksud adalah ular.Dan benar saja, sesaat setelah teman saya menantang 'mereka' untuk muncul malah seekor ular sendok/mungkin kobra atau semacamnya muncul dari puing puing gubuk. Kita pun kaget dan segera keluar dari gubuk. Kami pun berlari sampai jatuh bangun masuk kedalam pepohonan tebu.

Karena sudah ada didalam pepohonan tebu yang tingginya diatas tubuh kami, kami pun mulai menebang satu per satu tebu yang berukuran sebesar lengan kami itu dan memotongnya seukuran kurang lebih satu meteran dan kami sudah mendapatkan banyak tebu. Kami pun hendak keluar dari pepohonan tapi sosok yang aneh dan ngeri muncul didepan saya. Saya pun kaget dan mencerit. Teman teman saya pun kaget dengan tingkah aneh saya. Kemudian mereka bertanya kenapa saya berteriak. Saya bilang ada sosok mengerikan didepan kita. Teman teman saya celingukan mencari sosok yang tepat berada didepan mereka itu. Sosok berwajah agak hancur dengan rambut putih, dan baju yang lusuh.

Berbisik dengan jelas, "Jangan ambil tebu ku sembarangan. Mintalah izin!!". Kemudian saya langsung berkata kepada teman saya untuk meminta izin kepada penghuni sini karena sudah mengambil tebu tanpa izin. Mereka pun tertawa dan menganggap saya berlebihan dan takut ketahuan si pemilik pohon tebu. Mereka pun cepat cepat mengemasi barang dan mengambil tebu tebu tang jatuh dan pergi. Dalam hati saya berkata maaf ribuan kali kepada sosok yang terus melihat saya dengan melotot. Nampaknya 'dia' tidak senang.

Kemudian setelah beberapa langkah keluar dari pepohonan tebu dan mau melintasi gubuk tua, sosok 4 ular pun muncul. Kami pun geragapan dan tidak tahu harus bagaimana. Ular ular itu seperti menghadang kami dan tidak membiarkan kami lewat. Kami pun kabur lewat jalan memutar dan meninggalkan tebu tebu itu berjatuhan dan sampai akhirnya tak tersisa ditangan saking paniknya untuk kabur dari 4 ular tadi.

Salah satu teman saya bilang, "Mungkin tino benar, kita harus izin dulu kepada penghuni pohon tebu ini agar kita bisa pulang". Teman saya yang satunya lagi berpikir dan mengangguk. Kami pun pergi kedalam pepohonan tebu lagi entah kenapa mereka masuk lagi. Ternyata teman saya mau menebang tebu lagi. Saya pun memperingatkan jangan terlalu banyak membawa tebu. Tapi karena dia yang tertua mungkin tidak terima dinasehati anak kecil seperti saya. Dia mengabaikan saya dan terus menebangi tebu seenaknya.

Dari arah samping kanan kami terdengar dengan jelas, bahkan kami berempat mendengarnya, "Pergi dari sini". Seketika kami saling menatap, mereka menatap saya melongo. Saya pun langsung mengucap maaf dan meminta izin untuk mengambil tebu yang sudah dipotong teman saya. Teman teman saya pun mengikuti ucapan saya. Kemudian kami pun membawa dua batang tebu yang dipotong teman saya dan mengambil kembali tebu tebu yang berjatuhan tadi dan melihat kearah gubuk dan 4 ular itu sudah tidak ada. Sosok aneh itu pun muncul didepan pintu gubuk dengan anak kecil tadi disamping kanannya. Saya pun berterima kasih dalam hati dan kami mulai berjalan dengan sempoyongan karena membawa terlalu banyak tebu.

Ok guys, itulah cerita masa kecil saya yang seru. Masih banyak lagi cerita tentang sawah yang sejuk dan horror, juga cerita tegal yang isinya pepohonan mangga yang dihuni banyak sekali MG. Semuanya akan saya ceritakan di artikel selanjutnya. Semoga cerita diatas bisa menghibur kalian dan bisa menjadi pelajaran bahwa kita harus meminta izin terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Akhir kata, 'mereka' itu ada. Septino Wibowo