Friday, October 20, 2017

Cerita Hantu Tegal dan Sawah #3

Halo guys, di cerbung #3 dan terakhir ini saya akan membahas sosok yang sangat aneh yang pernah saya lihat di sawah bersama teman teman saya. Hal yang membuat saya tidak bisa tidur selama dua hari waktu itu. Mungkin hal itu hanya terjadi kepada saya, atau mungkin teman saya juga melihatnya, tapi sampai sekarang saya tidak pernah menanyakan atau membahas hal itu lagi dengan mereka karena saya tidak ingin hal yang sama terulang kembali.

Septino Wibowo
Sawah yang dulu sangat sejuk, hijau dan banyak pohon besar ditengah sawah dan juga pohon pisang sekarang semuanya lenyap. Hanya ada lautan padi yang terhampar luas dan gubuk gubuk kecil yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Entah gubuk itu diperbarui atau masih gubuk yang sama sejak saya masih kecil saya tidak tahu tapi posisi gubuk gubuk itu masih terlihat sama seperti yang ada di ingatan saya dulu.

Setiap orang pasti akan mengalami hal aneh dan mengerikan dalam hidupnya, entah itu sekali atau berkali kali pasti setiap orang akan merasakannya. Dan sialnya saya termasuk yang berkali kali mengalami hal aneh yang tidak bisa saya ceritakan kepada siapapun dari kecil sehingga karakter pendiam muncul dalam diri saya di sisi kepribadian saya yang ceria, humoris dan gila. Saya hanya menuangkan semua yang saya alami dalam bentuk tulisan dari saya kecil. Entah tulisan itu tersusun atau acak bahkan tak banyak mengerti tulisan tangan saya.

Saya memang memiliki tulisan tangan yang sangat jelek menurut banyak orang, tapi ada juga yang bilang tulisan saya berciri khas dan mudah dikenali. Ada yang bilang tulisan tangan saya unik dan sedikit aneh. Saya terima semua anggapan itu, karena kenyataannya tulisan saya memang seperti itu. Tapi, yang terpenting adalah saya paham dengan tulisan tangan saya sendiri. Tidak perduli orang lain mengerti mengerti atau tidak bisa membaca tulisan saya yang terpenting saya paham dengan apa yang saya tulis.

Terkadang saya menulis cerita dengan kumpulan kode dan gambar hiasan supaya orang lain tidak mengetahui maksudnya. Saya menulis kode yang saya buat sendiri dan saya pahami sendiri. Semuanya karena saya tidak ingin banyak orang yang tahu tentang saya yang sebenarnya dari dulu sampai sekarang. Mungkin kalian yang sering atau bahkan selalu stay membaca cerita cerita saya sering menebak saya orang yang seperti apa, tapi saya yakin kalian tidak akan tahu saya yang sebenarnya walaupun mengenal saya dan akrab sekalipun.

Bahkan keluarga saya tidak mengenal saya sepenuhnya, tidak mengerti dengan jalan pikiran dan tujuan hidup saya yang sebenarnya. Teman teman saya banyak yang menganggap saya aneh, tapi banyak juga yang suka berteman dengan saya karena keunikan dan karena saya sering membuat lelucon serta mencairkan suasana. Tapi sebenarnya mereka juga tidak mengenal saya yang sebenarnya seperti apa. Karena saya memang tidak pernah memberi tahu siapapun tentang siapa saya yang sebenarnya. Yang pasti saya bukan iluminati seperti yang banyak orang bilang, saya bukan pengikut setan, saya bukan psikopat, saya bukan anak yang kerasukan jin, dan saya bukan orang yang kalian anggap dan terka, siapapun itu, Tuhan lah satu satunya yang mengenal saya hehe.

Ok, back to story.

Kami berdiam diri di gubuk tua dengan kedinginan, kaki yang basah lumpur sawah yang masih basah. Baju kami pun cuma kaos tipis dan celana pendek yang membuat suasana dingin semakin terasa. Telinga saya pun terasa berdengung 'nginggggggg' beberapa saat kemudian suara petir terkencang pun bergemuruh membuat kami semua kaget.

Sosok itu oun muncul lagi dari balik jerami mengintip memunculkan sedikit wajahnya dan rambut panjangnya. Saya pun memejamkan mata lagi berharap sosok itu segera pergi. Saya pun hanya bisa berdoa membaca surat surat pendek dalam hati dengan nafas yang mulai tersengal sengal. Teman saya pun mencoba menyadarkan saya yang mulai keringat dingin.

Saya ketakutan karena wajah sosok itu begitu jelek, mungkin tidak terlalu jelas tapi cukup membuat saya ingin menangis disana tapi saya tahan. Tak berapa lama hujan pun reda, saya pun membuka mata lagi, sosok itu sudah tidak ada tapi saya bisa merasakan sosok itu masih ada disekitar sini. Saya pun berkata kepada teman teman, "Yuk pulang". Teman teman saya masih belum berani pulang karena suara petir masih bergemuruh. Saya pun melihat keluar gubuk. Memang masih mendung yang pekat dan hampir seperti sore hari di waktu maghrib. Mengerikan sekali cuaca hari ini. Apa ini hukuman karena kami mengambil buah mangga dan ketela tanpa izin ya.

Teman saya yang terkena paku pun berdiri, dia pun mengikuti saya. "Ayo pulang, sepertinya hujan sudah reda", kemudian dia mengambil karung yang masih ada banyak mangga didalamnya. "ehh tunggu, aku ikut" susul temanku yang satunya dan teman saya yang meninggalkan saya di tegal tadi juga menyusul tanpa sepatah kata.

Kami pun berjalan menelusuri padi yang basah karena hujan. Suara jangkrik disekitar kami membuatku merinding. Entah kenapa rasanya seperti sore hari padahal ini masih sangat pagi. Saya yang berjalan paling depan dan teman teman saya mengikuti di belakang. Kabut mulai muncul, entah kenapa bisa begini padahal daerah kami bukan daerah pegunungan tapi kabut begitu membutakan pandangan. Sekilas saya mendengar tawa entah siapa. Saya pun menoleh kebelakang, smuanya melihat kearah saya penasaran. "Ada apa no?" tanya teman saya yang terkena paku. Saya menggeleng kepala dan melanjutkan berjalan menelusuri jalanan kecil yang hanya muat satu orang saja.

Sesampainya di tepi jalan yang lebih besar kami semua segera membagi jatah masing masing. Tiga mangga dan satu ketela per orang sudah cukup. Kami pun langsung kembali ke rumah dalam diam. Mungkin masih terpikir tentang kejadian pagi ini yang begitu aneh dan menyeramkan. Tapi walaupun begitu, kami semua tidak kapok untuk mengambil mangga di tegal atau kebun mangga dan ketela milik Alm. Mbah Jayus itu dan sesekali juga pasti melihat para sosok di tegal. Tapi yang masih janggal di pikiran saya adalah sosok apakah itu yang ada di gubuk. Sampai sekarang saya belum menemukan jawabannya dan saya pun tidak ingin tahu jawabannya hehe.

Ok sekian cerita tentang Hantu Tegal (Kebun Mangga dan Ketela) dan Sawah dari awal sampai part ini yang saya buat terakhir karena cerita lanjutan tegal dan sawah bisa sangat panjang jika dibuat seri hehe. Terima kasih sudah membaca cerita amatir ini. Semoga terhibur dan mendapat pelajaran dalam cerita ini. Akhir kata, 'mereka' terkadang tak mau menampakkan wajah. Septino Wibowo