Friday, October 13, 2017

Cerita Malam Jum'at Septino #2

Halo guys, udh masuk ke minggu ke dua cerita malam jum'at nih. Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman bertemu mbak kunti di rumah kosong waktu saya kecil dulu. Pengalaman ini saya tulis di buku diary kecil saya yang sudah ketemu lagi, mungkin udah saya ceritain ya hehe. Well, mungkin agak serem sih tapi gak bikin saya jera buat terus main dan lewat rumah kosong itu walaupun banyak cerita horror di rumah itu yang sekarang sudah dibongkar dan dijadikan tempat gym.

Septino Wibowo
2005,

Pada hari kamis, pagi hari aku pergi ke sekolah seperti anak anak pada umumnya. Aku sarapan bubur di tempat dagangan Mbah Yarmi (Almarhumah) dengan uang Rp.500 dan mendapat semangkuk bubur. minum es teh dibungkus plastik kecil dengan harga Rp200. Sangat murah kan? Itulah jaman yang paling menyenangkan dimana semua makanan murah tapi harga teknologi yang selangit karena belum banyak produk waktu itu.

Hari kamis, pelajaran Matematika, PPKN dan Menggambar. Semuanya tidak begitu sulit dan yang paling kugemari ya pelajaran menggambar tentunya karena aku sangat suka menggambar. Ketika pelajaran menggambar, guru menjelaskan untuk menggambar sesuka hati dan dikumpulkan di meja depan kalo sudah selesai. Seperti biasa, aku suka menggambar pemandangan tapi kali ini aku ingin menggambar rumah besar yang disekitarnya banyak kebun dan sawah.

Setelah selesai, aku menyerahkan hasil karyaku ke bu guru, dan mendapat nilai 7,6. Lumayan lah hehe, kemudian aku pun pulang ke rumah. Tapi di perjalanan pulang, temanku mengajakku bermain osrok (Permainan melempar bungkus rokok dengan batu gepeng di dalam lingkaran, siapa yang dapat melempar batu dan mengenai bungkus rokok dan keluar lingkaran dan batunya juga keluar lingkaran mendapatkan bungkus rokok itu. Jika batu berada dalam lingkaran maka kalah, jika dalam lingkaran sudah habis bungkus rokoknya maka finalnya setiap pemain harus dapat mengenai batu pemain lain untuk menang dan mendapatkan bungkus smua bungkus rokok) Permainan waktu jaman kecil yang sangat seru, memanfaatkan bungkus rokok menjadi kreasi berbentuk kotak.

Aku tidak tahu sebutan permainan ini di daerah kalian tapi di daerahku sebutannya adalah permainan osrok karena melempar batu gepeng dengan mendatar atau diosrok. Kalo jaman sekarang mungkin sudah tidak ada anak kecil yang memainkan permainan unik dan seru untuk kebersamaan ini. Padahal permainan ini sangatlah seru dan bisa meminimalisir limbah bungkus rokok. Tapi sekarang yang ada hanyalah permainan digital yang membuat organ tubuh kaku tak bergerak.

Back to story, akhirnya aku memutuskan untuk ikutan bermain karena aku sudah punya banyak bungkus rokok di rumah yang kucari bersama teman teman dimana mana dari mulai sukun sampai L.A yang nilainya berbeda beda setiap bungkus rokok. Aku pun bergegas pulang, mengganti baju dan mengambil kotak yang isinya batu gepeng andalanku dan juga banyak bungkus rokok yang sudah dilipat kotak. Aku pun pergi sekolah lagi karena permainannya diadakan di tempat parkir sepeda di sekolah SD. Setelah sampai di tempat permainan ternyata hanya ada satu temanku yang sudah datang sedangkan yang lain belum datang.

Aku pun duduk dan melihat lihat bungkus rokok apa saja yang kupunya. Sedangkan temanku hanya duduk dan memperhatikan apa yang kulakukan. Akhirnya semua orang datang, dari yang paling kecil dan yang paling tua semuanya sama sama senang bermain permainan ini. Aku pun sering menang dan mendapatkan banyak bungkus rokok baru. Kemudian adzan dzuhur berkumandang. Kami pun mengakhiri permainan dan akan bermain lagi setelah ashar di halaman rumah temanku yang tidak jauh dari sekolahan. Aku harus melewati rumah kosong itu di jalan kecil untuk sampai ke rumah temanku itu.

Permainan ke dua pun dimulai dari sekitar jam 3 sampai sekitar jam 5 an. Tak terasa mau maghrib, kami pun mengakhiri permainan karena matahari hampir tidak terlihat lagi dan beberapa orang tua temanku mencari temanku dan menyuruh mereka untuk pulang. Aku pun pulang sendirian melewati jalan kecil yang sampingnya persis adalah rumah kosong yang katanya pernah digunakan untuk permainan jelangkung dan banyak hal mistis lainnya.

Aku berpikir sejenak dan sadar bahwa hari itu adalah hari kamis kliwon. Menurut pandangan orang jawa kliwon dan hari kamis adalah waktu dimana dedemit sering muncul. Aku pun mulai merinding sendiri dan melihat banyak bayangan, ops dan sesuatu berkeliaran dimana mana. Tidak ada yang menyeramkan pikirku waktu itu, jadi aku pun memberanikan diri untuk berjalan santai di jalan kecil itu yang masih terjal dengan bebatuan tak rata dan tanpa penerangan apapun. Yang terlihat hanyalah sinar cahaya dari rumah tingkat milik Mbak Temok dimana aku sering beli es marimas disana. Selain itu, semuanya nampak gelap dan agak sunyi.

Suara jangkrik yang semakin keras membuatku merinding. Aku pun melihat seorang wanita berjalan berlawanan yang semakin mendekat kearahku. Aku pun tersenyum kearahnya, tapi dia justru kaget melihatku. Disitu aku mulai sadar bahwa wanita itu bukanlah manusia. Detak jantungku semakin cepat ketika wanita itu menatapku di kegelapan dan anehnya wajahnya terlihat jelas dan mengerikan. Kemudian wanita itu berbisik "Kamu bisa melihat saya?", suara lirih itu membuatku gemetaran dan berteriak dan langsung berlari dengan keringat dingin sampai akhirnya jatuh tersungkur dan dengkulku sedikit berdarah karena rasanya perih sekali.

Kemudian sosok itu pun mendekat lagi dan berbisik, "Ikutlah denganku masuk kedalam rumah". Sosok wanita itu menunjuk sumur di rumah kosong itu. Aku pun menangis dan mencoba berdiri, sosok itu pun tertawa dengan nada ngeri (Tidak seperti di film film, tapi malah seperti orang yang sesak nafas dan kehabisan oksigen, seperti itulah suara tawanya) dengan wajahnya yang ngeri membuatku semakin keras menangis. Kemudian ada orang tua yang datang dan membantuku berdiri. Orang tua itu menghapus air mataku dan mencoba menenangkanku dengan ucapan "cup cup cup, sudah gak papa kok. ayo kakek antar pulang" (dalam bahasa jawa ya). Aku pun mengangguk dan masih sesenggukan dan mesih melihat sosok itu bersembunyi dibalik pagar bambu melihat kami berdua.

Aku pun diantar pulang dengan kakek tua itu, aku lupa namanya tapi dia sudah Almarhum dua tahun lalu karena faktor usia. Ketika di rumah, aku malah diomeli ibu karena pulang terlalu larut tapi ada nenek yang membelaku dan menyuruhku mandi kemudian mengobati lukaku.

Gimana ceritanya? Kurang serem ya? hehe memang begitulah adanya. Saya memang anak yang cengeng dulu dan mungkin sekarang masih kalo bahas tentang hal sensitif hehe. Mungkin cukup ini dulu ya cerita malam jum'at #2. Next story bakalan lebih seru lagi. Semoga cerita diatas bisa menghibur kalian semua. Terima kasih sudah membaca cerita biasa ini. Akhir kata, 'mereka' suka melihat kita menjerit. Septino Wibowo