Friday, October 27, 2017

Cerita Malam Jum'at Septino #3

Halo guys, gk terasa udh ada di cerita malam jum'at yang ke 3. Di cerita kali ini saya akan membahas tentang Tuyul atau semacamnya. Saya gak tau itu tuyul atau sosok lain karena saya juga gak tanya namanya hehe. Pengalaman ini terjadi ketika saya masih menginjak kelas 4 SD. Kenapa saya ingat? Karena ada dalam buku diary saya yang sudah ketemu dan saya tulis dengan tulisan simbol yang hanya saya saja yang tahu artinya.

Septino Wibowo
Bukan tulisan simbol mesir kuno ya, tapi simbol simbol yang saya buat sendiri sehingga memudahkan pemahaman saya. Ok langsung saja ke ceritanya ya

2007,
Permainan panggalan atau gasing yang terbuat dari kayu adalah permainan yang populer saat itu. Aku dan temanku selalu bermain pada musim permainan ini tiba. Aku juga punya gasing dari kayu milikku sendiri yang sejak dulu sudah ada, aku tidak ingat kapan aku punya gasing kayu itu tapi aku menemukan gasing itu di kolong kasur nenek bersama setermos kecil kelereng. Aku mengambil gasing itu dan bertanya pada nenek milik siapakah kelereng dan gasing ini, nenek bilang itu milikku. Nenek sengaja menyimpannya di kolong kasur supaya aku bisa memainkannya lagi.

Tapi, masalahnya ikat untuk memutar gasingnya tidak ada, Nenek pun menyuruhku untuk membeli rafia di toko Lek Siwi yang tak jauh dari rumahku. Kemudian Nenek dengan cepatnya membuat tali pengikat untuk memutar gasing. Setelah itu aku pun membawa gasing dan tali pemutarnya ke tempat permainan diadakan, di samping tegal atau kebun Alm. Mbah Jayos.

Anak anak sudah siap untuk bermain, bukan hanya anak kecil sumuranku tapi juga anak anak sudah remaja SMP juga ikut bermain di tempat yang berbeda tapi di lokasi yang sama. Permainan berlangsung menyenangkan sampai akhirnya tak sengaja gasing itu mengenai kakiku sampai melempuh dan berwarna biru keunguan. Aku menangis kesakitan, permainan pun disudahi. Aku pun pulang membawa gasingku dan tali pengikat pulang dengan terus menangis.

Ibu yang mengetahui keadaanku justru memarahiku karena bermain permaianan berbahaya ini, kemudian mengobati kakiku dengan air hangat. Kemudian aku pun masih merasakan nyeri dan nyut nyutan di bagian jempol kakiku, Nenek bilang itu biasa dan nenek memijat mijat kakiku supaya rasa sakitnya menjadi ringan. Malamnya aku pun bermain lagi permainan gasing itu sendirian di depan rumah untuk mengasah kemampuanku memutar gasing seberapa lama.

Tak lama kemudian, ada anak kecil sekujur tubuhnya berwarna hitam dan matanya lebar serta berbau tidak enak menghampiriku. anak kecil itu hanya melihatku ketika aku melihatnya. Aku bertanya padanya siapa dia, dia malah lari seperti ketakutan dan mengumpat di balik pagar tembok rumah depan rumahku. Sesekali anak berwarna hitam itu mengintip kemudian bersembunyi lagi.

Aku pun berpura pura tidak melihatnya kemudian mencoba mengejutkannya tapi setelah aku mencoba mengagetinya, anak kecil itu tidak ada dibalik tembok. Aku celingukan mencari keberadaannya, ternyata dia memanjat pohon mangga dan melambai lambai ke arahku. Aku pun menghampirinya dengan mencoba memanjat pohon mangga, tapi suara panggilan nenek menghentikanku. Nenek dengan cepat menyuruhku untuk masuk kedalam rumah. Aku pun melihat ke atas pohon lagi dan anak kecil berwarna hitam itu sudah tidak ada tapi ada tepat didepanku dengan tatapan marah. Wajahnya berubah mengerikan dan membuatku merinding dan gemetaran, kemudian aku pun berlari keluar pagar sampai tanganku tergores oleh kawat pagar bambu dan berdarah.

Aku pun menangis kemudian berlari kedalam rumah meninggalkan gasingku di luar rumah. Setelah itu, Nenek mengobati lukaku dengan getah daun dium yang sangat perih kemudian menempelkan hansaplas ke lukaku untuk menutupi lukanya. Nenek kemudian bilang untuk tidak naik pohon mangga itu lagi dan tidak bermain dengan anak kecil berwarna hitam itu lagi. Nenek bilang anak kecil itu adalah tuyul yang jahat. Aku hanya mengangguk mengerti dan tidur.

Dalam mimpiku, aku melihat anak kecil hitam itu lagi, dia bermain air di kubangan kecil, dia tertawa dan melambaikan tangannya seolah olah mengundangku untuk bermain dengannya. Aku pun mendekatinya tapi setelah dekat, air kubangan itu membesar dan membuatku tenggelam. Aku pun berteriak teriak sampai akhirnya tersadar dari tidurku. Sosok itu ada di sampingku, kemudian berbisik, ayo main dalam bahasa jawa. Aku menggeleng kepala dan menghampiri ibuku dan mendekat.

Ok guys, mungkin cukup sekian dulu ceritanya. Semoga cerita diatas bisa menghibur malam jum'at kalian. Jangan lupa untuk berlangganan artikel di blog ini dengan cara memasukkan email kalian di bawah untuk mengetahui setiap update an cerita baru di blog ini. Ingat! sebagian dari 'mereka' itu tidak baik untuk menjadi teman atau musuh. Septino Wibowo