Friday, October 13, 2017

Sejarah Hantu: Mbah Darmo

Halo guys, kali ini saya kembali dengan artikel yang mengisahkan sejarah hidup seorang hantu. Banyak yang bertanya tanya, kenapa namanya sejarah hantu, karena setiap hantu itu punya sejarah hidup mereka masing masing dan itu sudah menjadi sejarah dan tidak bisa lagi mereka rasakan. Banyak pelajaran hidup yang saya dapat dan alhamdulillah banyak pembaca saya dapat setelah saya mengetahui kisah hidup 'mereka' dan saya tulis di blog ini dan banyak pembaca saya bilang bahwa mereka mendapat banyak pelajaran dari kisah hidup seorang hantu. Mereka pembaca saya juga bilang sampe meneteskan air mata dan emosi mereka naik turun ketika membaca artikel saya di kategori ini.

Septino Wibowo
Ya memang, saya pun sama. Saya menulis artikel tentang mereka ketika saya tahu kisah hidup mereka yang semuanya tragis. Sepanjang hidup saya saya tidak pernah menemukan hantu dengan kematian yang wajar. Mereka 'nyangkut' dengan alasan tidak bisa menyebrang. Mungkin ada beberapa yang menetap karena hal lain dan bisa kapan saja menyebrang tapi mereka itu tidak mau. Ya memang rumit jika dijelaskan karena tidak ada pembuktian atau hal rasional yang bisa dijelaskan tentang hal ini.

Kisah kali ini sangatlah menyedihkan bagi saya, walaupun bukan saya yang mengalaminya tapi saya bisa merasakan emosi dan perasaan sosok ini. Sosok orang tua botak dengan hanya sedikit rambut di pinggiran kepalanya. Sosok yang waktu hidupnya selalu menghindar dan bersembunyi dari kejamnya nippon (Jepang). Tragisnya ketika dia sudah berkeluarga, memiliki satu anak dan satu cucu, mereka semua terbunuh dengan mengenaskan ditangan nippon karena pemberontakan yang mereka lakukan untuk melindungi sang kakek. Mari kita baca cerita selengkapnya disini.

2015,

Bulan desember saya seperti biasa bepergian ke luar kota, di kota tempat banyak sejarah para pahlawan Indonesia disemayamkan. Dengan tanda Sura dan Buaya menjadi simbolnya. Saya memang sering ke kota ini, tapi kali ini hanya untuk bersenang senang mencari udara segar karena mengingat saya sudah bebas dari belenggu sekolah dan pondok. Walaupun waktu itu saya hanya memiliki sedikit uang, tapi karena banyak teman alhamdulillah saya tertolong dalam urusan tempat tinggal dan kadang juga makanan hehe. Cukup seru menelusuri tempat tempat bersejarah di kota ini, tapi ada beberapa hal mengganjal dalam benak saya. Banyak sekali hantu nippon disini.

'Mereka' seolah olah tahu bahwa saya pribumi dan melihat sinis kearah saya. Tatapan yang aneh itu menggiring saya pergi jauh dari tempat pecinan itu. Saya pun pergi ke rumah rumah tua yang sudah tak berpenghuni sejak lama. Suasana asri nan banyak pohon dan rumput liar yang tumbuh semakin membuat saya yakin bahwa tempat tempat disini tidak dijamah makhluk hidup. Tapi banyak yang bilang bahwa tempat 'angker' seperti ini malah digunakan untuk orang memadu kasih, Apa mereka tidak takut?

Lelah berjalan jalan, saya pun duduk di rumah tua yang lumayan besar. Duduk di teras rumah sepertinya tidak akan membuat saya kesambet setan lewat, jadi saya pun beristirahat sejenak dan meminum air mineral yang saya beli di toko kelontong seberang jalan di tempat para 'nippon' berada. Jam tiga sore rasanya seperti mau maghrib saja karena mendung yang tiba tiba datang. Dan tak lama kemudian hujan turun, benar benar luar biasa. Saya harus menetap di rumah tua ini sendirian karena hujan yang turun dengan derasnya. Saya tidak mau kehujanan untuk kembali ke kosan teman saya karena banyak barang elektronik didalam ransel saya.

Saya pun masuk kedalam rumah tua itu karena beberapa atap bocor di teras rumah. Didalam rumah, rasanya bukan dingin tapi panas, suhu ruangan seperti ini membuat saya ketakutan. Saya mulai merasakan kehadiran mereka dari suara berisik dari dalam beberapa ruangan gelap. Banyak coretan pilok dan tulisan aneh satani didalam rumah tua ini, mungkin banyak anak muda atau orang orang yang masuk kedalam rumah tua ini dalam berbagai tujuan.

Sosok bayangan hitam muncul di tembok dekat ruangan dimana saya berada, jantung saya mulai berdebar kencang. Walaupun saya memiliki 'penjaga' tapi bukan jaminan keselamatan saya. Seorang wanita melewati saya dengan cepat membuat saya tersentak beberapa saat dan sosok wanita itu pun kaget dengan reaksi saya. Wanita itu kemudian menghilang dengan cepat menembus tembok ruangan sebelah saya. Kepala saya mulai migren ketika beberapa sosok aneh muncul mengintip dari balik pintu, saya merasa sedikit sesak nafas. Saya pun memutuskan untuk duduk di sudut ruangan dekat pintu rumah tua.

Saya meneguk air mineral saya yang hampir habis untuk memulihkan kesadaran saya yang mulai memudar. Bayangan hitam tapi muncul lagi. Kali ini berubah bentuk menjadi sosok orang tua botak dengan baju khas pendeta mendekat kearah saya. "Sedang apa kamu disini" tanya sosok orang tua tersebut dalam bahasa krama jawa/bahasa jawa yang sopan. Saya dalam batin menjawab "Mampir sebentar menghindari hujan diluar". Sosok itu pun tersenyum, "Kamu bisa melihat dan mendengar saya?", tanya sosok tua itu, saya mengangguk. "Saya sudah meminta izin kepada raden raden dan mbakyu mbayu dibelakangmu untuk berbicara dan mendongeng. Boleh saya menetap?", tanya sosok itu begitu sopan, saya mengangguk, "Tapi tolong jangan ikuti saya", jawab saya.

Sosok itu tertawa renyah, kemudian berkata, "Saya hanya ingin bisa berbicara dengan pribumi yang masih hidup dan bisa mendengarkan saya, boleh saya bercerita?", "Silahkan", jawab saya dengan sopan membalas kesopanannya.

Cerita ini mungkin agak rumit untuk saya jelaskan karena beberapa kata tidak saya pahami (Efek ngeces waktu pelajaran bahasa jawa). Sosok ini selalu berbicara dengan sopan dan menggunakan bahasa santun/krama.

Sosok ramah ini adalah seorang pendeta dimasa jajahan jepang. Sosok yang santun dan ramah kepada siapapun. Seorang pribumi yang taat melayani Tuhan nya dan selalu menasihati setiap orang yang putus asa waktu itu. Beliau adalah Mbah Darmo Sudrajat. Memiliki seorang anak laki laki yang sudah berkeluarga dan cucu perempuan yang cantik. Hidup dalam kesederhanaan dan juga tekanan. Masa penjajahan jepang adalah masa ter tragis dalam sejarah penjajahan di Indonesia. Kekejaman nippon kepada pribumi dan juga para orang orang belanda yang diusir dan dibunuh untuk menggantikan posisi kekuasaan. Dan keluarga Mbah Darmo adalah salah satu keluarga yang masih bertahan dan bersembunyi dibalik kejamnya pasukan jepang.

Mereka sering berpindah tempat, dan Mbah Darmo pernah sekali terkena timah panas pasukan jepang ketika melindungi keluarganya yang hendak kabur. Usaha kabur sudah pupus. Mereka diseret bersama ribuan orang lainnya yang tersiksa dalam perbudakan. Walaupun begitu, Mbah Darmo masih bersyukur bisa berkumpul dengan keluarganya. Makanan tak layak, tempat tidur bagai batu terjal di punggung sudah biasa menghiasi kehidupan mereka yang serba tersiksa.

Suatu hari, Mbah Darmo melakukan kesalahan dalam pekerjaannya melayani jepang. Seorang tentara memukul keras kepala Mbah Darmo yang sudah rapuh. Mbah Darmo jatuh tersungkur di kubangan lumpur dengan darah segar di pelipisnya. Anak Mbah Darmo kemudian emosi dan berkelahi dengan tentara jepang itu. Dalam waktu yang singkat anak Mbah Darmo jatuh meringis kesakitan melawan pasukan jepang yang sudah terlatih itu. Kemudian anak Mbak Darmo ditembak mati didepan Mbah Darmo dan istri anak Mbak Darmo.

Istri anak Mbah Darmo histeris dan dibawa kedalam ruangan. Sementara Mbah Darmo hanya bisa memegang pelipisnya dan menangis sebisanya melihat anaknya yang sudah diseret ke tempat lain dalam keadaan tak bernyawa. keesokan harinya, Mbah Darmo mendapat kabar bahwa menantunya sudah meninggal bunuh diri bersama cucunya. Mbah Darmo kembali terisak dan memegang dadanya seperti merasa hatinya yang sudah remuk dan hancur ditinggal semua keluarganya. Bagi Mbah Darmo, keluarga adalah hal terpenting bagi hidupnya.

Keesokan harinya, Mbah Darmo mulai berdakwah kepada umat nasrani di tempat tahanan, Mbah Darmo mulai bangkit dan melupakan kejadian buruk beberapa hari lalu. Sampai suatu hari Mbah Darmo kepergok tentara jepang sedang mencoba kabur bersama para umat nasrani lainnya. Tentara jepang itu pun memanggil pasukannya dan menggiring masuk lagi para tahanan kedalam ruang mereka masing masing. Sementara Mbah Darmo harus menanggung hukuman ditembak mati.

Seperti biasa, air mata saya mengalir dengan sendirinya mendengar kisah Mbah Darmo yang begitu baik mengalami hal tragis dimasa itu. Bahkan hal sepele menjadi ajal bagi yang menentang, niat baik terbalas dengan nyawa. Itulah kekejaman Nippon waktu itu. Di Rumah Tua itu Mbah Darmo mengungsi bersama ribuan lainnya yang terusir dari tempat mereka sendiri oleh hantu jepang. Bahkan sekita sudah tiada pun jepang masih menjajah pribumi sebaik Mbah Darmo.

Setelah cerita Mbah Darmo selesai, Mbah Darmo tersenyum dan berkata, "Negara ini sudah rusak dari dulu, negara ini butuh amunisi otak bukan hanya semangat dan senjata, dan kami butuh banyak orang sepertimu untuk mengerti keadaan kami di alam yang berbeda". Saya hanya mengangguk dan kemudian pamit untuk segera pergi karena hujan sudah reda dan tak terasa sudah malam. Tubuh saya sedikit lemas setelah waktu itu dan perlu tidur banyak untuk memulihkan energi saya kembali.

Mungkin cukup disini dulu ya ceritanya, nantikan cerita Sejarah Hantu lainnya. Kamu juga bisa berlangganan artikel saya jika suka hanya dengan memasukkan email kamu di menu berlangganan dan kamu akan mendapatkan pemberitahuan setiap kali saya update artikel di blog melalui email. Semoga cerita diatas bisa menjadi pelajaran untk kita semua yang masih hidup. Akhir kata, 'mereka' juga bisa terjajah di alam sana. Septino Wibowo