Friday, February 9, 2018

Sejarah Hantu: Dõnita Dalcélios Muaztrée

Loading...

Halo guys, kali ini saya akan membuat cerita tentang hantu yang 2 bulan belakangan meneror saya. Bukan tentang gangguan yang saya alami tapi tentang sejarah si hantu ini. Dõnita Dalcélios Muaztrée, itu namanya. Dia adalah gadis keturunan Prancis yang tinggal di Indonesia sebelum beberapa tahun Belanda menjajah.

Sebelumnya seperti yang kalian sudah ketahui jika membaca artikel saya sebelumnya. Tentang wanita bergaun hitam yang lumayan banyak dibahas. Sosok itu adalah Dõnita. Bagaimana dia bisa mengikuti saya ke rumah? Pertanyaan ini yang masuk kedalam otak saya beberapa bulan lalu. Dan akhirnya saya mendapat jawaban dari Dõnita atas pertanyaan saya tersebut.

Septino Wibowo
Dia bilang, dulu waktu saya pergi ke desa Dormo dan membantu mengubur jenazah sepasang kekasih dengan layak dia melihat saya dari kejauhan. Waktu itu saya mengalami mimpi aneh seperti berpindah tubuh menjadi orang lain kalian bisa membacanya di artikel 2 Mimpi Aneh Yang Mengerikan. Disitu saya sadar bahwa itu bukanlah mimpi melainkan saya benar-benar berpindah tubuh ke masa lalu dimana semuanya yang serba kumuh dan berantakan.

Dia bilang kalau dia berada di sebelah gereja tapi saya tidak melihatnya. Dan ketika tugas saya sudah selesai di desa itu saya kembali ke raga saya dan dia mengikuti saya ke masa sekarang. Saya masih bingung dengan kejadian ini tapi dia bilang mudah saja. Setelah itu dia menceritakan riwayatnya yang sungguh tragis.

Beginilah cerita dari Dõnita Dalcélios Muaztrée,

Lahir tahun 1585 di Mayotte, Prancis yang penduduknya waktu itu sangat miskin dan minoritas. Orang tua yaitu tuan Elio Muaztrée dengan istrinya serta Dõnita pergi ke Indonesia ikut rombongan pembeli rempah rempah di Indonesia. Setelah sampai di Indonesia, mereka pun menetap di suatu pulau Krakatau (Waktu itu Pulau Jawa dan Sumatra masih terhubung sebelum gunung Krakatau meletus).

Disana, masih sedikit penduduk dan tanah yang subur membuat mereka betah tinggal disana. Tahun 1590an Belanda datang ke Indonesia dan dengan waktu singkat mengambil alih Indonesia. Walaupun Keluarga Muaztrée berhasil kabur dan bersembunyi di gua yang cukup dalam tapi tentara Belanda tidaklah bodoh. Mereka akhirnya tertangkap. Mereka dikurung di tempat yang bisa dibilang menjijikan karena banyak kotoran manusia dan juga bangkai hewan tergeletak begitu saja. Selama beberapa hari kemudian Ayah Dõnita jatuh sakit karena tak tahan dengan bau bangkai dan kotoran manusia juga belum makan apapun sejak hari penangkapan.

Beberapa hari kemudian Ibu Dõnita dikeluarkan dari tahanan, bukan untuk dibebaskan tapi dijadikan korban pemerkosaan para prajurit yang menjaga tahanan. Keesokan harinya Ayah Dõnita meninggal disampingnya dan Ibu Dõnita tak kujung kembali. Dõnita yang menangis tak henti dan beteriak sekencang kencangnya membuat para penjaga berdatangan. Akhirnya Dõnita dipindahkan ke tahanan bawah tanah yang baru dibuat. Dan Jasad Ayah Dõnita entah dibawa kemana. Dõnita mulai depresi dengan keadaannya tanpa orang tua di usianya yang masih remaja.

Beberapa hari kemdian ada satu penjaga tahanan yang memerhatikan Dõnita selalu menangis menghampiri Dõnita dan memberikan air minum. Setelah itu mereka ngobrol beberapa saat sampai akhirnya Dõnita bisa tidur untuk sesaat. Ternyata penjaga itu diam diam suka kepada Dõnita dan membawa Dõnita kabur dari tahanan dan mereka bersembunyi di tengah hutan bersama para penghianat Belanda lainnya.

Beberapa bulan kemudian persembunyian Dõnita dan kekasihnya serta para penghianat diketahui oleh mata mata belanda dan mereka pun ditembak secara membabi buta. Banyak yang mati bersimbah darah bahkan isi perut mereka keluar tapi Dõnita, kekasihnya dan beberapa orang lainnya berhasil lolos melalui jalan rahasia dan bersembunyi lagi di suatu desa bernama desa Dormo. Banyak penduduk yang tidak setuju jika mereka tinggal disana tapi Dõnita yang bisa berbahasa daerah dan bahasa Indonesia dengan lancar meyakinkan para penduduk bahwa dirinya dan orang orang itu adalah orang baik.

Setelah beberapa lama tinggal disana akhirnya mereka tertangkap oleh prajurit Belanda yang berkeliling di desa itu. Beberapa orang berhasil kabur tapi nasib Dõnita dan kekasihnya kali ini tidak sebaik sebelumnya. Kaki Dõnita dirantai dan dibakar dengan besi panas juga kekasihnya. Mereka berdua di kurung di tahanan khusus seperti penjara yang ukurannya sangat kecil. Mereka dibiarkan kelaparan selama beberapa hari sampai pada satu hari yang tak terlupakan di memori Dõnita. Kekasihnya dieksekusi di depan matanya. Kepalanya dipenggal dan badannya dibakar. Dõnita menjerit histeris dan tak sadarkan diri beberapa saat.

Ketika dia sadar dia sudah berada di tempat seperti ruang kosong batu bata yang hanya diterangi obor. Kemudian ada tiga prajurit belanda masuk kedalam ruangan itu dan mengikat tangan dan kaki Dõnita. Kemudian para prajurit itu menyetubuhi Dõnita secara bergantian. Setelah saat itu, Dõnita menjadi sedikit gila dan sering tertawa, menangis, marah dan berbicara sendiri.

Pada suatu hari, para prajurit itu mau menganiaya dan menyetubuhi Dõnita lagi tapi kali ini Dõnita dengan bringas melawan dan menggigit para prajurit sampai berdarah. Ikatan di tangan dan kakinya terlepas dan dia dengan berani mengambil senapan prajurit dan menembak mereka tepat di kepala mereka. Setelah itu Dõnita yang belum puas mengambil pisau di ikat pinggang prajurit itu menusuk dan berobek perut mereka dan memakan isi perut mereka.

Dõnita pun keluar dari tahanan dan menyerang para prajurit membabi buta sampai akhirnya dia tewas ditembak bertubi-tubi oleh para prajurit belanda. Satu hal yang membuat Dõnita dendam adalah penduduk desa Dormo. Dõnita berpikir bahwa yang meyebarkan info dirinya dan kekasihnya tinggal disana adalah penduduk desa itu sendiri. Dõnita pun mengutuk desa itu di nafas terakhirnya.

Kini tempat itu sudah terkubur oleh letusan Krakatau dan menjadi lautan. Sejarah kelamnya masih terukir di dimensi waktu. Dõnita bilang bahwa desa itu masih hidup dan masih ada jasadnya disana bersama orang tua serta kekasihnya. Dõnita bilang, dia akan bahagia jika ada orang yang tahu bahwa dia sangat mencintai Indonesia tapi mengutuk desa yang sudah tenggelam itu. Dõnita juga berkata bahwa dengan membagi cerita ini pada seseorang akan membuatnya lebih tenang karena selama 400 tahun lebih dia mencari orang yang bisa menjadi wadahnya.

Dan kebetulan waktu itu saya yang dia anggap bukan penduduk desa itu dia ikuti untuk menjadi wadahnya. Karena dia tidak mungkin menemukan wadah jika terus menunggu di Pulai Krakatau. Jadi dia masuk ke masa lalu desa itu dan menemukan saya.

Itulah kisah Dõnita Dalcélios Muaztrée. Saya pribadi sebelumnya tidak sanggup menulisnya karena emosi Dõnita yang mempengaruhi mood saya. Tapi alhamdulillah sekali lagi saya bisa sharing cerita tentang sejarah hantu. Semoga cerita Dõnita bisa menjadi pembelajaran serta pengetahuan kisah masa lalu yang tak tercacat dalam sejarah. Kini dia mungkin akan lebih tenang di dunianya. Terima kasih sudah membaca cerita ini, ingat! 'mereka' itu ada. Septino Wibowo